Restoran Ini Menjadi Solusi Untuk Menghilang Lapar Kaum Miskin di Qatar

QATAR-RESTAURANTS-FOOD-MIGRANTS

Sapujagat.com – Dua bersaudara asal India, pemilik restoran Zaiqa yang terletak di pinggiran Doha di Qatar menjadi penghilang lapar sekaligus penolong bagi orang-orang miskin di kota metropolitan tersebut. Restoran itu menyajikan makanan cuma-cuma alias gratis bagi orang-orang yang tidak punya uang.

Saudi Gazette melansir, restoran itu terletak 16 kilometer, sekitar 40 menit berkendara, dari belantara pencakar langit kota Doha. Wilayah itu adalah kompleks industri yang dihuni para pekerja toko, buruh pabrik dan kuli bangunan yang kebanyakan pekerja migran.

Tulisan di papan depan restoran Zaiqa menjadi penyejuk mata bagi pekerja kecil yang sebagian besar gajinya dikirim ke kampung halaman untuk penghidupan anak-istri: “Jika kalian lapar dan tidak punya uang, makan di sini gratis!!!”

Tiga pekan lalu, dua bersaudara asal India, pemilik Zaiqa, yang memutuskan memberikan makanan gratis bagi warga miskin di wilayah itu. Shadab Khan, 47, mengaku terharu setiap kali dia melihat papan itu.”Saat saya melihat papan itu saya menangis. Bahkan saat kita membicarakannya sekarang, nafas saya tercekat,” kata Shadab yang mengaku mendapatkan ide ini dari adiknya, Nishab.

Sepiring kari ikan dihargai 6 riyal (Rp21 ribu), telur goreng 3 riyal (Rp10 ribu) dan sepiring Palak Paneer yang terbuat dari bayam adalah 10 riyal (Rp35 ribu), untuk yang mampu bayar. Namun bagi yang tidak mampu, semua makanan itu gratis.

Keputusan untuk memberikan makanan gratis itu didasari fakta banyaknya pekerja migran yang tidak mampu karena gaji mereka dikirim ke kampung halaman. Diperkirakan ada 700 ribu hingga satu juta pekerja di kerajaan Qatar, dari populasi 2,3 juta penduduknya, berasal dari negara-negara seperti India, Bangladesh dan Nepal.

QATAR-RESTAURANTS-FOOD-MIGRANTS

“Kebanyakan buruh mendapat upah 800-1.000 riyal (Rp2,8-3,5 juta) per bulan. Mereka harus mengirim uang itu ke kampung halaman. Biaya di sini sangat tinggi sehingga banyak yang membutuhkan makanan gratis,” kata seorang pekerja migran asal Nepal, Ghufran Ahmed.

Selain gajinya kecil, terkadang upah mereka telat dibayarkan, membuat mereka harus semakin mengencangkan ikat pinggang. “Kami sadar orang-orang ini tidak punya uang untuk makan. Sehingga mereka hanya mampu membeli roti seharga 1 riyal (Rp3.500). Jadi kami berusaha menawarkan mereka makanan,” kata Shadab.

Namun, rencana mulia keduanya harus menghadapi masalah. Nasib restoran itu kini di ujung tanduk karena perselisihan harga sewa antara Shadab dan pemilik lahan. Cekcok ini bisa berakhir pada penutupan Zaiqa.

Selain itu, makanan gratis ini tidak banyak yang mencoleknya. Pasalnya menurut Shadab, para buruh memiliki harga diri yang tinggi sehingga enggan mendapatkan sesuatu tanpa membayar. Alhasil, paling banyak hanya dua atau tiga orang yang datang untuk makan cuma-cuma setiap harinya.

Kendati demikian, hal ini tidak menyurutkan niat baik kedua kakak-beradik ini, mereka punya strategi lain.

“Kami akan menempatkan kulkas di luar. Lemari es ini tidak akan dikunci dan menghadap jalanan. Ada paket makanan dengan tanggal pembuatan di dalamnya. Jadi siapapun yang menginginkannya bisa mengambilnya, sehingga mereka tidak perlu masuk ke dalam,” kata Shadab.

Agen Poker