Di India Ayah Jual Ginjal Untuk Tiga Anaknya yang Doyan Makan - Infotainment News Online Terkini

JagatDunia

Di India Ayah Jual Ginjal Untuk Tiga Anaknya yang Doyan Makan

on

anak_gendut_di-india

TAK KUAT JALAN: Dari kanan, Yo gita Rameshbhai Nandwana, Anisha, dan Harsh menikmati makanan dan minuman dalam porsi superbesar. (Tanzeel Ur Rehman/Cover Asia Press)

 

GUJARAT,Rameshbhai Nandwana, 34, ayah mereka, mengungkapkan bahwa putri pertama Bhavika, 6, memiliki berat normal 16 kilogram. Saat Yogita baru lahir, beratnya hanya 1,5 kilogram.

Yogita memiliki bobot 34 kilogram, Anisha 48 kilogram, dan Harsh 15 kilogram. Jatah makan mereka selama seminggu sama dengan jatah untuk dua keluarga selama sebulan penuh. Ketiganya bagaikan monster cilik yang selalu kelaparan. Begitu gemuknya, mereka sampai tidak bisa berjalan.

’Mereka lapar terus-menerus. Mereka menginginkan makanan setiap waktu dan menangis serta berteriak jika tidak diberi makan. Saya selalu berada di dapur memasak buat mereka,’’ ujar Pragna Ben, ibu mereka. Pragna bahkan tidak sanggup mengangkat anak-anaknya yang overweight tersebut.

Pasangan Rameshbhai Nandwana, 34, dan Pragna Ben, 30, dikaruniai tiga anak. Yakni Yogita Rameshbhai Nandwana, 5; Anisha, 3; dan Harsh, 18 bulan, bukan anak-anak biasa. Berat badan mereka melebihi rata-rata bocah pada umumnya.

Ketiganya diperkirakan menderita sindrom Prader-Willi. Yakni, kondisi kelainan genetis yang mengakibatkan banyak gejala. Termasuk lapar tiada henti, kekuatan otot berkurang, pertumbuhan terganggu, serta sulit belajar. ’’Ada timbunan lemak yang tidak normal pada anak-anak ini,’’ ungkap dr Akshay Mandavia, ahli pediatri di RS Anak Mandavia.

Lantas, Nandwana dan istrinya memberi makan Yogita sebanyak-banyaknya agar beratnya naik. Tidak disangka, kenaikan berat badannya cepat melesat. Pada usia 1 tahun, berat Yogita mencapai 12 kilogram.

Anisa dan Harsh lahir dengan berat normal. Namun, sama dengan Yogita berat, badan keduanya naik signifikan.

Nandwana sudah berkali-kali menemui dokter, yang kemudian menyarankan agar membawa mereka berobat ke rumah sakit yang lebih besar. Padahal, dia hanya pekerja serabutan yang berpenghasilan INR 3 ribu (Rp 618 ribu) per bulan. Semua penghasilan itu habis digunakan untuk makan.