Terkuak, Minyak Penjual Gorengan Pinggir Jalan Tak Pernah Diganti

73

jajanan gorengan pinggir jalan

 

Sapujagat.com – Masyarakat Indonesia sangat gemar sekali memakan gorengan. Sosiolog Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Musni Umar berpendapat bahwa kebiasaan memakan gorengan itu sangat sulit dihentikan oleh masyarakat Indonesia. Harga yang relatif murah dan terjangkau dibandingkan dengan gorengan di toko atau cemilan lain yang kebersihannya lebih terjamin juga menjadi penyebab sulitnya masyarakat Indonesia meninggalkan kebiasaan memakan gorengan.

“Kita bisa lihat, entah itu pagi, siang, atau sore sekalipun, orang-orang yang duduk, berdiri disini-disitu, semua makan gorengan,” ujar Musni saat dihubungi merdeka.com, Minggu (17/5).

Simpang siur mengenai gorengan diolah menggunakan minyak bekas masih menjadi fenomena yang terus mencuat. Sementara itu, berbagai macam gorengan mulai dari bakwan, tahu isi, sampai pisang goreng masih menjadi konsumsi masyarakat Indonesia.

Asep, mantan penjual gorengan yang biasa berjualan di bilangan Fatmawati ini mengaku semasa berjualan tidak pernah membuang sisa minyak yang digunakan setiap hari.

“Ya gitu, sisanya itu besoknya dipakai lagi, terus kayak gitu tiap hari,” kata Asep saat ditemui di kawasan Tebet Barat, Tebet, Jakarta Selatan.

Sejak berjualan hingga memutuskan untuk beralih profesi, Asep selalu memakai minyak sisa kemarin untuk mengolah gorengannya. Kebiasaan ini berhenti jika hasil olahannya mulai terlihat kehitaman dan tidak enak untuk dikonsumsi.

“Pokoknya setelah hasil gorengannya agak kehitaman, baru saya ganti minyaknya,” tutur Asep kepada merdeka.com.

Kebiasaan tersebut dia lakukan untuk meraup keuntungan yang lebih dari penjual lainnya. Harga minyak goreng yang fluktuatif menjadi alasan Asep untuk tidak mengganti minyak gorengnya secara teratur.

 

Bahaya yang mengintai kesehatan dalam gorengan

Pakar Nutrisi dari Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya Malang, Sri Andarini menuturkan cara pengolahan yang tidak benar, kebersihan, dan polusi membuat gorengan menjadi ancaman bagi kesehatan tubuh. Selain itu lingkungan sekitar tempat berjualan juga bisa menjadi sumber penyakit yang merugikan banyak konsumen.

“Gorengannya saja sudah berbahaya, karena mengandung banyak kolesterol atau lemak,” ucap Sri ketika dihubungi, Minggu (17/5).

Salah satu contoh nyata yang membuat gorengan jadi berbahaya, yaitu masih banyak penjual gorengan nakal yang tidak mau mengganti minyak sayur yang dia gunakan setiap harinya. Hal inilah yang menyebabkan bahaya gorengan bagi tubuh.

Menurut Sri, minyak yang dipakai berkali-kali akan menjadi senyawa yang merugikan bagi tubuh karena di dalamnya terdapat zat radikal bebas, seperti epioksida dan peroksida, juga karsinogen yang dalam jangka panjang bisa menyebabkan kanker.

“Itu bisa kena ke jantung, lever,” ujar salah satu tenaga pengajar di Universitas Brawijaya, Malang ini.

Kandungan zat berbahaya dalam gorengan tersebut menarik perhatian Pakar Nutrisi, Ninda Nursholihati. Dia mengatakan penyedap rasa yang digunakan pun juga kurang baik bagi tubuh karena mengandung natrium yang tinggi.

“Natrium itu garam, yang kalau kadarnya tinggi akan memberatkan kerja ginjal dan dapat menaikkan tekanan darah,” ujar Ninda saat dihubungi terpisah.

Hal yang paling sederhana dan sering dihindari oleh masyarakat umum adalah masalah kegemukan. Namun dengan mengonsumsi gorengan justru akan membuat asupan lemak seseorang lebih besar dari pada kebutuhannya.

“Itulah yang akan menyebabkan kegemukan,” pungkas Ninda.