Ambalat Jadi Rebutan, Inilah Kekuatan Indonesia Jika Terjadi Perang dengan Malaysia

74

ambalat jadi rebutan

 

Sapujagat.com – Ambalat memang berada dekat perbatasan kedua negara yaitu Indonesia dan Malaysia. Hingga saat ini ada 9 pesawat tempur Malaysia yang “main-main” ke Ambalat tanpa izin otoritas Indonesia. Akibat ulah Malaysia yang gemar membuat gara-gara di wilayah perbatasan Indonesia, penjagaan di Ambalat ditingkatkan oleh TNI.

Radar yang ada di Tarakan, Kalimantan Utara, sering mendeteksi hadirnya pesawat asing di wilayah ini dalam beberapa bulan belakangan.  “Pesawat negara tetangga beberapa kali terdeteksi masuk ke wilayah perbatasan. Terhitung dalam setahun ini ada 9 pesawat asing yang melintas,” kata Toipan Komandan Landasan Udara Tarakan, Letkol TNI AU Toipan Hutapea, seperti dikutip laman Merdeka.”

Menurut komandan Satuan Radar 225 Kosek II, kohanudnas di Tarakan, pesawat Malaysia sering melakukan pelanggaran wilayah perbatasan. Inilah yang membuat Indonesia dan Malaysia kembali tegang. Jika saja kedua negara mesti berperang, seberapa kuat kekuatan militernya? Mari lihat peta kekuatannya.

Malaysia memiliki pesawat tempur F-18 sebagai pesawat penyerang. Kecepatan tertingginya 18 mach dan dapat diterbangkan di malam hari pada berbagai cuaca. Pesawat ini dibuat untuk penyerbuan sasaran yang ada di darat. F-18 dapat tinggal landas lewat landasan udara ataupun kapal induk.Selain itu Malaysia juga punya lima pesawat tempur Hawk 208 yang dapat mengangkut peledak hingga 680 kilogram. Peluncurannya dapat dilakukan dengan panduan laser ke arah sasaran.

Angkatan laut Malaysia diperkuat dengan kapal Combat Boat 90 (CB90) buatan Dockstavarvet dari Swedia. Kecepatan melajunya mencapai 74 kilometer per jam di laut. Ada juga kapal fregat FFG 29 KD Hang Jebat buatan BAE Systems Surface Fleet Solutions.

Setelah itu, mari simak kekuatan Tentara Nasional Indonesia (TNI). Di tubuh TNI terdapat pesawat tempur F-5 Tiger, F-16 Fighting Falcon, dan Sukhoi. Untuk Sukhoi sudah ditempatkan di Pangkalan Udara Tarakan.

“Itu pesawat Sukhoi memang untuk menghancurkan bukan menakut-nakuti lagi. Pelanggaran udara setelah bulan Januari langsung menghilang karena diseganinya pesawat ini,” kata Tiopan.