Siap Mudik? Inilah Jalur alternatif mudik Lebaran 2015 – Jawa Barat, Tengah dan Timur

152

jalur mudik lebaran 2015

 

Sapujagat.com – Jelang mudik Lebaran, lalin akan menjadi padat ke arah Jawa Barat, Tengah dan Timur. Berikut ini adalah jalur-jalur mudik alternatif di berbagai wilayah dengan titik utama Jakarta dan kota-kota di Jawa Barat untuk menuju Jawa Tengah dan Jawa Timur. Di sini ada juga jalur alternatif beberapa wilayah, seperti jalur alternatif di Jawa Barat khususnya Kerawang, Pemalang/Comal (wilayah Jawa Tengah utara), Jawa Tengah bagian tengah sampai Solo, jalur alternatif di Jawa Timur dan beberapa kota lainnya, baik untuk mobil maupun jalur alternatif motor.

Jakarta ke arah Jawa Barat – Jawa Tengah

Bagi pemudik yang tak pengin dihadang kemacetan hebat di jalur utama pantai utara dan jalur tengah, ikutilah imbauan Kepala Polres Purwakarta Ajun Komisaris Besar Slamet Heryadi.

jalur-alternatif-mudik-lebaran-jawa-barat

Jika Anda pemudik dengan mobil pribadi yang datang dari arah Jakarta menuju Jawa Barat selatan, Jawa Tengah, Jawa Timur, NTB dan Bali, jangan keluar melalui pintu gerbang tol Cikopo atau Sadang. Namun, pada kilometer 66, sebaiknya langsung belok kanan menyusuri jalan tol Purbaleunyi, lalu keluar di pintu gerbang Ciganea atau Jatiluhur.

Anda kemudian akan masuk Kota Purwakarta, lalu menuju Jalan Raya Pasawahan dan selanjutnya masuk Wanayasa. Ruas Purwakarta-Pasawahan-Wanayasa ini adalah jalur alternatif selatan.

Jalur ini aman karena kondisi jalannya mulus dan cukup lebar. Nyaman karena suasana alam yang dijelajahi pemudik sangat menakjubkan. Di kiri-kanan bukit dan pegunungan menjepit jalan raya yang mulus dan berkelok-kelok. Di sana banyak terdapat tempat istirahat dan warung-warung kuliner.

Selewat ruas Pasawahan-Wanayasa, pemudik akan menyusuri ruas jalur Wanayasa-Sagalaherang-Jalan Cagak, Subang. Kondisi jalannya juga cukup mulus dan kondisi alamnya juga sama.

Selepas ruas sepanjang 20 kilometer itu, pemudilk selanjutnya melalui ruas Jalan Cagak-Cisalak-Tanjungsiang-kemudian masuk Cimalaka-Sumedang-Wado-Limbangan, Garut bablas lewat jalur selatan Kroya-Cilacap.

Atau pemudik juga bisa memilih Jalur Wado-Cikijing-Kadipaten-Palimanan bablas via jalur pantura Cirebon. Selamat mencoba.

Jalur mudik alternatif via Bogor

Kepala Dinas Lalu Lintas Angkutan Jalan (DLLAJ) Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Soebiantoro W menyatakan pemudik aman menggunakan jalur Selatan Bogor, Ciawi Sukabumi pada H-7 Hari Raya Idul Fitri 1436 Hijriah.

“Insya Allah, H-7 lebaran 2015, jalur mudik Bogor Ciawi Sukabumi sudah bisa dilalui kendaraan yang ingin ke Sukabumi, Cianjur, Bandung dan kota lainnya yang ada di Jawa Barat karena jalan sudah selesai diperbaiki,” kata Kadis DLLAJ Kabupaten Bogor, Soebiantoro di Cibinong, Rabu (1/7).

Dikatakannya, untuk jalur Barat adalah tujuan Leuwiliang Serang-Banten, di Jalur Timur ada Transyogi, Cileungsi tujuan Jonggol, Cariu, Cikolong Kulon. Jalur Selatan ada Bogor Ciawi Sukabumi dan Puncak, sedangkan jalur Utara ada Parung-Tanggerang.

“Bogor juga ada jalur mudik jalan Raya Bogor yang biasa dilalui pemudik dengan sepeda motor dan kendaraan pribadi, yang biasa tujuannya ke Puncak dan Bocimi,” katanya.

Sementara itu, Pelaksana Proyek perbaikan jalan di Jalur Selatan Ciawi Sukabumi, Tommy Sukmonugroho mengatakan, perbaikan jalan Ciawi Sukabumi akan selesai semuai sesuai target yang sudah ditetapkan.

17 Titik rawan macet di Jawa Barat

Kepolisian Daerah Jawa Barat mencatat sedikitnya terdapat 17 kawasan rawan macet yang bakal kembali dilalui arus pemudik Lebaran tahun ini. Sebanyak sembilan kawasan macet berada di jalur utama pantai utara Jawa, tiga titik di jalur tengah, dan lima titik di jalur selatan Jawa Barat.

“Di Pantura, kemacetan diprediksi kembali terjadi di kawasan Cikopo-Mutiara-Jomin,” ujar juru bicara Polda Jawa Barat Komisaris Besar Martinus Sitompul seperti dikutip Tempo. Selain itu, titik rawan kemacetan juga terpantau di pertigaan Cikalong, Gamon, Patrol/Pasar Eretan, putaran Lohbener, Tegal Gubug, Tegal Karang, Pejagan.

Di jalur tengah, kemacetan diperkirakan kembali terjadi di kawasan Sadang Purwakarta, Kalijati Subang, dan Cijelag-Sumedang. “Di jalur selatan bisa macet di kawasan Cileunyi-Cibeusi, Kahatex Rancaekek, Nagreg, pasar tumpah Limbangan, dan turunan Gentong,” kata Martinus.

Polda Jabar mencatat di ketiga jalur mudik Jawa Barat kini sedikitnya ada puluhan lokasi potensi kemacetan. Di antaranya 48 pasar tumpah, 336 pompa bensin, 343 rumah makan, 37 lokasi rest area, 12 lokasi pabrik. Juga 28 lokasi perbaikan jalan/jembatan, 204 putaran, dan sedikitnya tujuh titik penyempitan Jalan Cadas Pangeran, Nagreg, Gentong.

“Jika ekor kemacetan di Pantura sudah sampai simpang gerbang tol Cikopo, maka arus dari Jakarta di tol Cikampek akan dialihkan ke pintu tol Sadang dan selanjutnya dialihkan ke jalur tengah Sadang-Subang-Cijelag,” kata Martinus. Jika kemacetan pantura kian parah, jurus tambahan langsung dimainkan. “Kalau ekor macet Pantura sudah sampai tol Km 66, arus dari Jakarta akan dialihkan langsung menuju jalur selatan melalui tol Purwakarta-Bandung-Cileunyi,” ujarnya.

Mengantisipasi kemacetan di sekitar gerbang tol Cileunyi, polisi tahun ini akan merekayasa jalur arus keluar dari tol Cileunyi dan Bandung tujuan Nagreg. “Arus tujuan Garut yang biasanya belok (balik arah) di Cibeusi akan dialihkan untuk memutar di jalan kampus Universitas Padjadjaran di Jatinangor,” kata Martinus.

Jalur alternatif Jawa Barat yang ditutup

Berbeda dengan tahun sebelumnya, Jalur Cijapati yang menghubungkan Majalaya Bandung dengan Jalur Kadungora Garut, dipastikan tidak dipergunakan sebagai jalur alternatif pada arus mudik 2015.

Kepala Satuan Lantas Polres Garut Ajun Komisaris Firman Syafrul menyatakan, penutupan jalur itu akibat jembatan Bangbayang di Kampung Pintuan Karangtengah Kadungora usai ambruk Maret lalu, hingga saat ini belum diperbaiki dan masih mempergunakan jembatan darurat.

“Jembatan tersebut hanya dapat digunakan satu jalur kendaraan, sehingga tak mungkin jalur tersebut digunakan untuk jalur alternatif mudik, ” ujar Firman, Senin, 29 Juni 2015.

Sementara jalur alteratif Kadungora, Leles, Tarogong, Cilawu hingga Tasikmalaya akan dimanfaatkan dengan optimal untuk mengurai penumpukan kendaraan dijalur utama selata Jawa Barat di Limbangan-Malangbong.

“Jika jalur utama Limbangan-Malangbong mengalami kepadatan, maka jalur alternatif Kadungora hingga Cilawu akan digunakan seoptimal mungkin,” kata Firman.

Firman mengatakan, Leuwigoong, Bandrek, dan Wanaraja, akan menjadi jalur pengurai saat terjadi kepadatan arus kendaraa baik di jalur utama Limbangan-Malangbong, maupun kepadatan arus kendaraan di jalur alternatif Kadungora-Cilawu.

Jalur mudik dan jalur alternatif Jateng

Sementara itu seluruh jalur di wilayah Jawa Tengah diinfokan siap menyambut arus mudik maupun balik selama Lebaran 2015. hal itu disampaikan Kepala Biro Perekonomian Setda Provinsi Jateng Dadang Somantri.

“Kalaupun ada perbaikan di beberapa titik jalan di Jateng, pada H-10 Lebaran dipastikan sudah bisa difungsikan dengan baik,” ujarnya kepada wartawan, Selasa (30/6).

Untuk memperlancar arus mudik, kata dia, perbaikan jalan Provinsi pada H-15 Lebaran akan dihentikan sementara.

Di Jateng, kata dia, memang ada beberapa proyek perbaikan sarana dan prasarana jalan, seperti di Jalur Sayung-Demak maupun beberapa titik lainnya. Aktivitas perbaikan jalan di lokasi tersebut, kata dia, sepertinya tidak terlalu mengganggu arus lalu lintas karena pekerjaan hampir selesai.

Meskipun demikian, kata dia, pada H-15 Lebaran akan dihentikan untuk memberikan kenyamanan pemudik yang melalui jalur tersebut. Terkait dengan sarana pendukung lainnya, seperti Puskesmas, Rumah Sakit, dan terminal juga sudah siap menyambut pemudik Lebaran.

Demikian halnya, kata dia, terkait dengan tarif penumpang dipastikan tidak ada kenaikan karena kebijakan selama ini berupa batas atas dan batas bawah.

“Dimungkinkan banyak pemilik angkutan umum yang akan menerapkan tarif batas atas,” ujar Dadang yang juga Koordinator Pemantauan Lebaran Wilayah Timur.

Jalur mudik dan alternatif Jawa Timur

Masyarakat yang akan mudik Lebaran ke kampung halaman di Provinsi Jawa Timur (Jatim) diimbau mewaspadai dua jalur yang rawan macet, yakni jalur tengah (Surabaya-Madiun) dan jalur pantai utara (Pantura) Jatim.

Jalur tengah harus diwaspadai selama mudik dan balik, karena jalur yang memanjang mulai Surabaya-Mojokerto-Jombang-Nganjuk hingga ke Madiun dan Ngawi tersebut merupakan salah satu jalur terpadat dan sibuk di Jatim dibanding jalur-jalur yang ada lainnya.

“Pantura Jatim sisi barat mulai Tuban-Babat-Lamongan-Gresik-Surabaya memang padat, namun tidak sepadat Surabaya-Jombang-Madiun-Ngawi. Demikian pula dengan Pantura Jatim sisi timur mulai Surabaya-Sidoarjo-Pasuruan-Probolinggo selanjutnya ke Lumajang-Jember dan atau ke Situbondo-Banyuwangi, yang paling padat ada di jalur Sidoarjo-Pasuruan-Probolinggo,” ujar Kepala Dinas Perhubungan dan Lalu Lintas Angkutan Jalan Raya (Kadishub dan LLAJR) Jatim, Wahid Wahyudi yang dikonfirmasi, Rabu (24/6).

Diingatkan, di sepanjang jalur Surabaya-Madiun harus diwaspadai banyak terdapat pintu perlintasan kereta api, baik yang dijaga maupun tidak dijaga.

Agar para pemudik Lebaran, utamanya yang membawa mobil-mobil pribadi, diimbau agar memilih jalur alternatif lewat jalur Pantura maupun jalur Selatan saat mudik dan balik nanti.

Misalnya, mereka yang dari Surabaya mau ke Jawa Tengah (Jateng), maka untuk menghindari kemacetan panjang sebaiknya melalui jalur Lamongan-Bojonegoro-Padangan-Ngawi-Sragen atau Cepu-Blora, Jateng. Meski jarak tempuh terpaut 11-20 kilometer, jalur tersebut lebih efisien dibanding terjebak macet di jalur tengah.

Untuk jalur Pantura, titik macet karena sedang ada pembangunan tiga jembatan, yaitu Jembatan Manyar, Jembatan Tambak Ombo, serta Jembatan Sembayat.

Selain itu, ada penyempitan jalan di Duduk Sampean dari empat lajur menjadi dua lajur dan Pasar Babat juga menjadi titik macet lainnya di jalur Pantura. Meski demikian, jalur Pantura masih lebih baik dibandingkan jalur tengah, karena ada sejumlah jalur alternatif.

Wilayah Malang

Khusus untuk jalur dari Kota Malang, Blitar dan sekitarnya,untuk menuju ke Yogyakarta dan kota-kota lainnya di Jateng atau Jabar, disarankan lewat jalur Ponorogo-Madiun-Ngawi.

Khusus jalir lintas selatan Surabaya-Malang, Wahid menilai relatif lancar setelah beroperasinya tol Gempol-Pandaan. Masalah hanya di fasilitas putar balik (u-turn) di Pandaan yang terlalu dekat dengan perempatan.

Diakuinya, untuk jalur Pandaan-Purwosari-Purwodadi-Lawang-Singosari hingga memasuki Kota Malang dan Kota Batu, sulit dihindari dari kemacaten karena jalur alternatif via Pacet-Cangar-Kota Batu dan Kota Malang, relatif sempit.

Apalagi jika terjadi peningkatan volume kendaraan, maka baik jalur Pandaan-Malang (Kota Batu) sering terjadi kemacetan cukup panjang. “Makanya selama mudik dan balik Lebaran nanti, petugas lebih banyak yang disiagakan penuh mengatur lalu lintas di jalur Pandaan-Malang karena belum ada jalan tol,” tandas Wahid Wahyudi.

Pantura Dikebut

Menyambut arus mudik Lebaran, perbaikan ruas jalan raya rusak di Pantura timur di Kabupaten Situbondo (menuju Banyuwangi) terus dikebut. Perbaikan diarahkan ke jalan-jalan kabupaten yang menjadi jalur utama perlintasan Jawa-Bali. Termasuk beberapa titik ruas jalan di kawasan Kota Situbondo, yang mengalami perbaikan sejak beberapa hari terakhir.

“Kami menargetkan semua perbaikan jalan kabupaten yang jadi perlintasan utama jalur pantura, sudah bisa selesai sebelum Lebaran,” ujar Kepala Dinas Bina Marga dan Pengairan Situbondo, Yoyok Mulyadi.

Sekarang ini, katanya lagi, sedikitnya ada dua titik jalan kabupaten yang sedang dilakukan perbaikan, karena kondisinya rusak. Selain banyak lubang, dua titik jalan raya itu juga bergelombang, perbaikan dilakukan untuk meningkatkan kualitas jalan.

Hindari Jalur Tengah di Jawa Timur

Ditegaskan, pengendara sebaiknya menghindari jalur lintas tengah bagi yang mengarah ke Jawa Tengah dan sekitarnya. Sebaiknya tidak melewati jalur lintas tengah karena rawan macet parah.

Kemacetan parah paling rawan pada musim mudik Lebaran 2015 diprediksi terjadi di jalur Nganjuk-Caruban. Prediksi itu didasari beberapa factor pemicu, antara lain adanya dua perlintasan kereta api, juga jalan yang berkelok-kelok dan menyempit.