Kisah Reins Asmara Melukis Ganasnya Tsunami Yang Tewaskan Istrinya

50

kisah Reins Asmara

Sapujagat.com – Nama lengkapnya Rein Asmara, lahir di Sumatera Utara dan tinggal di bilangan Stui Banda Aceh. Semangat dan spiritnya untuk terus berkarya berbanding terbalik dengan usianya saat ini yang telah memasuki tahun ke 68.

Lantunan musik klasik dari gadget mengiringi tangan kanan pelukis ini di atas kertas putih. Sembari sesekali melihat ke arah objek sosok anak laki-laki yang duduk di hadapannya, tangannya terus menari-nari di atas kertas putih itu.

Tangan kanannya pun terus menggores-gores kertas putih dengan pencil, sedangkan tangan kiri memegang papan tempat kertas diletakkan. Sesekali dia mengusap keningnya dengan sapu tangan yang ada di samping kirinya dengan tangan kanan.

Di sekelilingnya ada puluhan pengunjung yang berada di arena pameran ulang tahun 100 tahun usia Museum Aceh menyaksikan cekatan tangan pelukis berbakat ini menyelesaikan lukisannya. Sedangkan objek yang dilukis seorang anak laki-laki duduk manis tanpa bergerak. Berselang 15 menit, lukisan wajah anak laki-laki itu pun selesai.

Pengalamannya dalam dunia seni lukis terbilang cukup senior, dia sudah menggeluti seni lukis sejak tahun 1978, kira-kira sudah lebih 50 tahun dia lakoni, artinya dia mulai melukis sejak masih usia 20 tahun.

Pria yang memiliki 5 anak ini dan dua istri belajar melukis mulanya dari kecintaannya menggambar sejak Sekolah Dasar (SD) hingga Sekolah Menengah Atas (SMA). Tamat sekolah bergabung dalam Sanggar Sekar Gunung yang diasuk oleh almarhum Ki Heru Wiryono.

Ki Heru Wiryono merupakan seorang pelukis fenomenal ahli di bidang seni pahat dan seni rupa lainnya. Ki Heru Wiryono sosok guru Reins berasal dari Sumatera Utara (Sumut) banyak ia timba ilmu darinya.

Sebelumnya, Reins bukanlah seorang pelukis. Semasa remaja Reins tergabung dalam grup band dan banyak tampil di festival-festival band kala itu di Sumut. Kemudian Reins berpikir bermusik saat itu hanya sekedar hobbi dan tidak menghasilkan.

“Istri pertama ketemunya berawal dari main band, bukan melukis,” kata Reins Asmara pada merdeka.com, Sabtu (1/8) di Banda Aceh.

Baru kemudian Reins sadar akan kemampuan dia menggambar semasa kecil hingga mengantarkannya masuk Sanggar Sekar Gunung. Hingga dia menjadi pelukis profesional seperti sekarang.

Ada kisah kelam dan membuat dia hampir terpuruk saat Aceh dilanda tsunami 10 tahun silam, tepatnya pada tanggal 26 Desember 2004 lalu, awal mula kisah kelamnya. Istri tercintannya yang telah memberikan 5 anak harus meninggalkannya untuk selamanya.

“Istri pertama saya, namanya Ros meninggal karena tsunami, anak saya ada 5, 3 masih hidup semua laki-laki dan 2 meninggal,” ucapnya.

Untuk mengenang mendiang istrinya jadi korban tsunami, Reins kemudian melukis sebuah kisah tentang tragedi yang menggemparkan dunia ini. Hingga kini lukisan itu masih tersimpan rapi di rumahnya, meskipun dia sudah kembali menikah pada tahun 2005.

Awal perkenalan dengan istri keduanya yang bernama Santi juga berawal dari sebuah lukisan saat mengikuti pameran di Medan, Sumut 9 tahun silam. Saat itu, seorang wanita yang kemudian jadi istrinya kagum dengan kemampuan Reins melukis.

Lantas, Reins pun tidak mensia-siakan kesempatan itu. Mengingat dirinya sudah duda, dia pun melancarkan jurus rayuannya untuk memikat pujaan hatinya itu.

Rayuannya bukan dengan memberikan sebuah cicin emas atau permata, bukan juga mengumbar kekayaan, rumah besar, mobil mewah atau harta yang banyak. Tetapi untuk memikat sang pujaan hatinya cukup dengan kuas, cat dan kanvas properti dia melukis. Keahliannya itulah Reins mampu memikat Santi, sang pujaan hatinya.

Reins melukis wajah Santi di atas kertas kanvas khusus. Kemudian dia berikan secara gratis, dan pucuk dicinta ulam pun tiba, Santi pun terpikat pada Reins setelah diberikan sebuah lukisan wajahnya itu hingga meniti rumah tangga hingga sekarang.

“Waktu itu saya minta foto dia, lantas diberikan dan saya lukis wajah istri saya waktu itu dan dia terpikat dengan saya, kami pun menikah,” ungkapnya.

Hingga sekarang, lukisan perkenalan pertama wajah istrinya itu dipajang di rumahnya yang terletak di Jalan T Umar, Seutui, Lr Bhakti, Nomor 8, Banda Aceh. Dia berada di Aceh karena harus ikut istri yang bekerja di bagian kosmetik di Banda Aceh sejak tahun 2012 lalu.

Lalu Reins pun berkisah. Pada dasarnya menjual karya seni di Aceh itu ibarat tanah gersang, sebaik apapun bibit yang hendak disemai, tetap saja tidak akan tumbuh subur dan berbuah banyak. Demikian juga dengan profesi melukis di Aceh gersang, berbeda bila berada di Jakarta.

“Di Aceh itu gersang untuk profesi melukis, tidak selaris berada di Jakarta, tetapi saya tidak peduli, yang terpenting saya bisa merdeka berkarya dan terus berkarya,” imbuhnya.

Kendati demikian, bukan berarti karya-karyanya tidak diminati. Rata-rata karya Reins dibeli oleh pejabat. Seperti yang pernah dibeli oleh mantan Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA), Hasbi Abdullah bertemakan tsunami dihargai Rp 15 juta. Kemudian lukisan sosok wali kota perempuan satu-satunya di Aceh yaitu Illiza Sa’aduddin Djamal.

Selebihnya, dia sering mengikuti setiap event dan mendapatkan penghasilan dengan melukis wajah seseorang. Setiap satu lukisan wajah yang dilukis di atas kertas sebesar HVS dibanderol dengan harga Rp 50 ribu.

“Karena ini banyak anak-anak sekolah, saya minta Rp 10 ribu saja, tetapi bahkan dikasih lebih,” ungkapnya.

Reins sendiri berprinsip, meskipun karya seni lukis di Aceh gersang. Selama mau berusaha tanpa berpangku tangan di rumah, rezeki telah Tuhan berikan tersebar dimana-mana, tinggal sejauh mana seseorang itu mampu meraihnya.

“Buktinya saya sekarang bisa sekolahkan anak-anak saya hingga sekarang saya punya 10 cucu,” sebutnya.

Baginya melukis adalah kemerdekaan jiwa, kebebasan untuk berekspresi dan tidak terbelenggu dengan berbagai macam aturan yang mengikat. Karena melukis sangat dipengaruhi kondisi ketengan jiwa, hati dan ketentraman jiwa.

“Saya bisa terus melukis ini juga berkat dorongan dan dukungan istri dan anak-anak saya,” jelasnya.

1425295623 2013-12-26+15.45.35

Menurut Reins, melukis itu butuh kedisiplinan, ketelitian dan berimajinasi yang kuat. Berkat kedisiplinan yang diterapkan oleh Ayahnya seorang militer, bisa menghantarkannya menjadi pelukis profesional hingga sekarang.

Selama setengah abad dia melukis bukan berarti selalu mulus dan sukses dia melukis. Pernah beberapa kali lukisan yang sedang dia kerjakan gagal dan rusak meskipun sudah berkali-kali dia perbaiki.

“Kalau sudah seperti itu langsung saya berhenti dan saya pergi berlibur untuk mencari inspirasi baru,” tutupnya.