Salim Kancil Dibunuh Dengan Keji, Begini Kronologinya

92

Sapujagat.com – Dua petani Desa Selok Awar-awar Lumajang Jawa Timur dianiaya secara brutal oleh sekelompok preman di hadapan istri dan warga desa lainnya. Secara sadis, keduanya dipukuli dengan benda tajam seperti cangkul, besi, batu, hingga dilindas sepeda motor.

Satu petani bernama Samsul alias Salim Kancil tewas mengenaskan. Sementara satu petani lainnya, Tosan, kritis.

Pembunuhan terhadap Salim Kancil warga Desa Selok Awar-Awar, Kecamatan Pasirian, Lumajang, Jawa Timur, jelas sudah direncanakan.

Hal ini dipastikan karena para pelaku sebenarnya sudah mengincar enam orang warga lain yang seluruhnya anti tambang di desa tersebut.

Menurut Koordinator Badan Pekerja KontraS Surabaya, Fatkhul Khoir,
Salim Kancil dan Tosan sebelumnya telah melapor kepada polisi terkait ancaman pembunuhan terhadap dirinya dari Tim 12.

Tim ini dikenal sebagai orang-orang suruhan Kepala Desa Solok Awar-Awar yang pro penambangan pasir. Namun, laporan korban tidak ada tindaklanjut dari Polsek Pasirian. Akhirnya, aksi pembunuhan sadis itu benar-benar terjadi.

Menurut warga bernama Yudi, ancaman ini datang setelah warga menggelar unjuk rasa kedua pada Rabu, 9 September 2015. Aksi warga kemudian mendapat ancaman. Mereka yang menjadi inisiator aksi diancam akan dibunuh.

“Salim Kancil jadi target pertama dan berhasil diculik dan dihabisi. Target kedua adalah Hamid, namun dia lolos karena tidak ada di rumah. Target ketiga Pak Tosan, dia dianiaya tapi diselamatkan warga,” kata Yudi kepada VIVA.co.id, Selasa, 29 September 2015.

Salim Kancil tewas mengenaskan karena mengalami penyiksaan hebat yang dilakukan orang-orang pro tambang. Saat diculik dari rumahnya, Salim Kancil diikat dan diseret ke balai desa.

Salim kemudian dianiaya banyak orang dengan cara distrum dan digergaji lehernya. Lebih sadis lagi, kepala Salim Kancil dipacul dan dihantam dengan batu dan benda keras lainnya.

Setelah meninggal, mayatnya kemudian dibuang di tepi jalan di areal perkebunan warga.

Tak puas, orang-orang suruh Tim 12 kemudian mendatangi rumah Hamid. Karena tidak ada yang bersangkutan, para pelaku kemudian menuju rumah Tosan.

Lebih dari 30 orang secara membabibuta menganiaya Tosan. Dengan menggunakan cangkul dan benda tajam. Tubuh Tosan juga dilindas dengan sepeda motor.

“Pak Tosan juga dikeroyok dengan keji. Sempat melarikan diri, tapi tertangkap di lapangan sepak bola di dekat rumahnya. Tapi berhasil diselamatkan warga,” kata Yudi.

Terkait dengan aksi keji yang telah direncanakan ini, seluruh warga meminta polisi bertindak tegas dengan menangkap pelaku dan aktor intelektual dari aksi ini. Polisi diminta jangan melakukan pembiaran terhadap aksi premanisme ini.

“Warga meminta semua ditindak tegas, baik dalang dan juga wayang-wayangnya ditangkap,” kata Yudi.

Bila polisi tidak segera bertindak, kata Yudi, masyarakat antitambang juga bisa berbuat nekat. Yang dikhawatirkan, bisa saling balas dendam.

“Aksi ini sudah berhembus, keluarga korban tidak terima atas pembunuhan sadis ini,” ujar Yudi.

Polisi ‘cuek’

Sementara itu, menurut Ati Hariati, istri dari Tosan, peristiwa pengeroyokan itu berlangsung selama 30 menit. Sebelumnya dia juga mendengar kabar Salim Kancil telah disiksa di kantor Balai Desa setempat sebelum jasadnya dibuang di Jalan.

“Jadi setelah mereka mengeroyok Salim kemudian ke rumah saya. Informasinya ada catatan nama orang-orang yang akan dikeroyok Tim 12 ini,” kata Ati.

Sebelum pengeroyokan itu, Ati mengaku sempat didatangi sekitar 20 orang dengan membawa celurit di rumahnya. Mereka meminta Tosan untuk menghentikan upaya menuntut penutupan tambang.

Ati telah melaporkan kejadian tersebut kepada polisi setempat meskipun belum ada tindak lanjut hingga terjadi pengeroyokan brutal Sabtu lalu.

“Itu sekitar minggu pertama September, mereka mengancam akan membunuh saya dan suami saya jika terus menuntut meminta tambang ditutup. Sudah saya laporkan ke Polsek, tapi kemudian diminta ke Polres Lumajang dan sudah di BAP, tapi belum ada perkembangan,” katanya.

Dia mengaku suaminya punya dua alasan untuk terus menentang tambang tersebut. Pertama tambang telah merusak lahan pertanian warga dan truk pasirnya juga membuat celaka warga.

“Sudah ada yang meninggal karena ditabrak truk pasir,” katanya.

Kini, Tosan sedang menjalani perawatan di RSSA Malang. Kondisinya parah. Ati menyebut suaminya telah sadar meskipun masih dilarang untuk banyak berbicara dan menerima makanan dari selang infus.