Inilah Cara-Cara Polisi Ungkap Aksi Bejat Agus Pembunuh Bocah Dalam Kardus

96

Sapujagat.com – Publik di hebohkan dengan Penemuan mayat bocah dalam kardus di Kalideres, Jakarta Barat pada Sabtu (3/10) menyentak publik. Bocah perempuan berusia 9 tahun itu diperkosa, dibunuh dengan keji, lalu dimasukkan ke dalam kardus, dan dibuang di pinggir jalan.

Melalui berbagai hambatan, polisi akhirnya berhasil mendapatkan petunjuk yang mengungkap pembunuh bocah dalam kardus. Ada 3 alat bukti yang membuat polisi menetapkan Agus Darmawan (39) menjadi tersangka.

Polda Metro Jaya benar-benar serius mengungkap kasus ini, dibuktikan dengan pembentukan Satgas Khusus. Akhirnya setelah penyelidikan berhari-hari, olah TKP berkali-kali, dan memeriksa sejumlah saksi, Satgas Khusus berhasil mengungkap kasus tersebut.

Ini merupakan beberapa cara yang dilakukan polisi untuk mengungkap aksi bejat Agus;

1. Melalui Rekaman CCTV

rekaman cctv pembunuh bocah dalam kardus

Warga bernama Ida Fitriani menemukan jasad dalam kardus di di Jalan Sahabat (pinggir Jalan Tol Sedyatmo), RT 06 RW 05, Kelurahan Kamal, Kalideres, Jakarta Barat. Jasad ditemukan dalam kondisi kaki tertekuk, tangan terikat, mulut dan kemaluan berdarah. Penemuan itu lalu dilaporkan ke Polsek Kalideres sekitar pukul 22.30 WIB.

Beberapa hari setelah itu, polisi menganalisis rekaman CCTV yang tak jauh dari lokasi pembuangan mayat. Dari rekaman CCTV terlihat ada pemotor yang melintas dan membawa kardus. Meski tak begitu jelas, rekaman CCTV ini menjadi salah satu titik terang di kasus ini.

Rekaman CCTV itu diperoleh tim kepolisian Ditreskrimum Polda Metro Jaya, Polres Jakbar dan Polsek Kalideres dari sebuah gudang yang berjarak sekitar 500 meter dari TKP, di Kampung Belakang, Kamal, Kalideres, Jakbar. Gudang berisi besi-besi tua tersebut adalah milik Sujaroadi (54).

2. Melalui Tes DNA

tes DNA pembunuhan bocah dalam kardus

Pihak kepolisian mulai mengerucutkan penyelidikan arah terduga pelaku Agus Darmawan. Tim forensik bahkan telah mengambil sampel di rumah bedeng Agus, yang saat itu masih berstatus sebagai saksi. Selain itu, polisi juga mengambil sampel DNA Agus.

Namun selain memeriksa Agus, polisi juga memeriksa terduga lain yang merupakan pria-pria single, yakni Roni (43), Asmuni alias Pelor alias Doni (48), Agus (42) dan Roso (33). Asmuni dikenal warga sebagai pria yang stres. Polisi juga mengambil sampel DNA para pria ini. Sampel DNA menjadi kunci pengungkapan kasus ini, mengingat di tubuh korban ditemukan sperma di vagina korban.

3. Kebohongan Agus Saat di Hipnotis

pembunuhan bocah dalam kardus di hipnotis

Metode hipnoterapi juga digunakan dalam mengungkap kasus ini. Namun Agus yang memang seorang residivis ini sudah mengerti metode ini dan berpura-pura terhipnotis oleh penyidik yang berusaha mengorek keterangan jujur dari Agus.

“Berbagai cara teknik, salah satunya kalau lihat foto itu kami para penyidik menunjukkan bukti akurat kepada yang bersangkutan dan kami lakukan analisa hipnoforensik dan terduga pelaku berpura-pura tidur, berpura-pura terhipnotis,” ujar Dirkrimum Polda Metro, Kombes Krishna Murti dalam konferensi pers di Main Hall Polda Metro Jaya, Jakarta Selatan, Sabtu (10/10).

Krishna mengatakan, dari tingkahnya, Agus terlihat paham dengan metode hipnoterapi yang digunakan polisi. “Artinya, yang bersangkutan sangat paham bagaimana menipu pertanyaan penyidik, tetapi dia mengaku sampai akhirnya dilakukan interogasi kita bertiga. Kami tegaskan tidak ada satupun proses kekerasan seperti apa yang disampaikan terduga pelaku pada video ini,” ujarnya.

4. Keterangan Saksi T Menjadi Kunci

saksi T jadi kunci pembunuhan bocah dalam kardus

Di tengah perjalanan pengungkapan kasus ini, diketahuilah Agus Darmawan pernah mencabuli seorang anak di bawah umur berinisial T. Pengakuan T ini menjadi titik terang pengungkapan kasus mayat bocah dalam kardus.

“Alhamdulillah, pada hari Kamis (8/10) malam salah satu saksi T, kemudian bercerita bulan Juni 2015, yang bersangkutan pernah masuk ke rumah AD dikunci, diciumi, dicabuli, dipeluk diraba. Kami meminta saudara T dengan orang tuanya membuat laporan. Kemudian hari Jumat saudara AD kami tetapkan sebagai tersangka pencabulan,” ujar Dir Reskrimum Polda Metro Jaya, Kombes Pol Krishna Murti dalam konferensi pers di Main Hall Polda Metro Jaya, Jakarta Selatan, Sabtu (10/10).

Krisna mengatakan, kesaksian T atas perbuatan cabul Agus sangat membantu. Pihaknya juga harus berpacu dengan masa penahanan Agus atas penggunaan narkotika.

Sementara itu, Krishna mengungkap beberapa hambatan lain. Di antaranya minimnya saksi dan keterangan anak-anak yang masih bisa berubah-ubah.

Pada 10 Oktober 2015, polisi akhirnya menetapkan Agus Darmawan sebagai tersangka pembunuhan bocah dalam kardus. Ada 3 alat bukti yang membuat polisi menetapkan Agus sebagai tersangka. Bukti pertama adalah DNA tersangka di kaos kaki korban, bercak darah korban di rumah agus, dan sperma tersangka di vagina korban.

Agus dijerat pasal berlapis, yaitu Pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana juncto Pasal 338 KUHP UU Nomor 35 tahun 2014 dengan perubahan atas UU Nomor 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak dengan ancaman seumur hidup.

5. Agus Pengguna Narkoba

kronologi pembunuhan bocah dalam kardus

Polisi sebelumnya menerima laporan dari warga sekitar rumah Agus tentang kondisi anak-anak mereka. “Sebelumnya tidak melapor, namun kemarin ada 13 anak-anak yang melaporkan didampingi oleh orang tuanya,” tutur Krishna. Di antara anak-anak yang melapor, 10 di antaranya adalah laki-laki dan tiga perempuan.

Mereka melaporkan tentang aktivitas Agus yang menggunakan narkoba dengan melibatkan anak-anak di bawah umur . “Anak-anak yang di bawah umur ini yang bersepuluh, membentuk geng namanya Boel Tacos,” ujar Krishna. Apa arti dari kata itu sendiri masih belum diketahui.

Agus sendiri sebelumnya diperiksa polisi terkait pembunuhan Putri. Namun pada saat melakukan tes urin, ia dinyatakan positif mengandung methamphetamine. Agus melakukan pemeriksaan pada 6 oktober, saat dinyatakan positif, ia kemudian ditahan di Direktorat Narkoba Polda Metro Jaya.