Pantangan Di Malam 1 Suro Yang Penuh Kesan Mistis

459

Sapujagat.comMalam 1 Suro, sebenarnya merupakan saat ketika masyarakat Jawa merayakan tahun baru. Dalam Islam, ini dikenal dengan tanggal satu Muharam. Berbeda dengan kebiasaan masyarakat modern, saat malam 1 Suro tiba, orang Jawa tidak menyambutnya dengan kemeriahan, melainkan dengan berbagai ritual sebagai bentuk introspeksi diri.

Malam 1 Suro memang terkenal dengan kemistisannya. Pada malam seperti ini, konon dikabarkan makhluk astral banyak berkeliaran ketimbang malam-malam lainnya.

Antara percaya dan tidak percaya, dua hal itu yang akan selalu menjadi jawabannya. Tapi, tahukah kamu, kesan mistis pada malam 1 Suro sebenarnya sudah dibangun sejak dulu.

Pada waktu itu, 1 Suro yang menjadi tanggal tahun baru pada kalender Jawa, dimanfaatkan oleh masyarakat di kerajaan di Pulau Jawa untuk membersihkan pusaka. Ritual membersihan pusaka ini disebut jamasan.

Selain membersihkan pusaka, masyarakat di sekitar kerajaan juga melakukan ritual Mubeng Benteng untuk meramaikan malam pergantian tahun. Ritual itu sampai sekarang masih bisa kamu temui di Kraton Surakarta dan Kraton Ngayogyakarta.

Lalu mengapa Malam 1 Suro menjadi misitis?

Sebenarnya tidak hanya mistis, bulan Suro juga dipercaya orang Jawa sebagai bulan yang kurang baik alias bulan kesialan. Kesan itu dihembuskan dengan tujuan agar masyarakat tidak membuat pesta yang nantinya akan menyaingi ritual-ritual kraton seperti jamasan dan Mubeng Benteng.

Oleh karena itu, di lingkungan Jawa orang tidak boleh menikahkan anaknya di bulan Suro. Mitos itu bahkan masih dipercaya sampai sekarang. Kini, itu semua tergantung Anda, ingin memperingati malam 1 Suro yang bertepatan dengan malam 1 Muharram ini dengan aktivitas seperti apa. Yang pasti mitos akan selalu ada bagi yang mempercayainya.

Percaya gak percaya tapi memang sebagian besar masyarakat Jawa meyakini bulan Suro merupakan bulan penuh kesialan. Untuk itu mereka akan mencuci bersih diri mereka yang diwakili oleh senjata pusaka seperti keris, tombak dan lainnya. Benda tajam ini dimandikan dengan ritual tertentu. Orang Jawa biasa menyebutnya dengan Penjamasan.

Ritualnya pun juga gak sembarangan. Kudu puasa, bakar kemenyan, bikin tumpeng, dan lainnya. Merepotkan? Tidak juga. Ini salah satu keyakinan namun sekaligus tradisi yang memperkaya kebudayaan kita. Penjamasan keris juga dilakukan oleh Keraton Yogyakarta dan Surakarta hingga kini. Dan, dikarenakan bulan Suro adalah bulan sial, banyak warga tidak melaksanakan sebuah acara-acara seperti perkawinan, ulang tahun, dan sebagainya karena akan mendatangkan hal negatif.

Usut punya usut, ternyata larangan warga mengadakan pesta di malam 1 Suro karena Keraton juga mengadakan ritual atau tontonan. Kalau ada hajatan, tentu ritual ini akan sepi penonton dan Keraton kalah pamor. Tapi tetap saja banyak penduduk meyakini kalau malam 1 Suro berbahaya. Mending di rumah dan merenung.