Inilah Penjelasan Lengkap Mengapa Air dan Garam di Baskom Tidak Bikin Hujan

50

Sapujagat.com – Beredar pesan berantai berisi ajakan melawan asap dengan menaruh baskom isi air dan garam. Di tengah kabar tentang kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan di Sumatera dan Kalimantan, pesan tersebut mengajak warga di seluruh Indonesia untuk meletakkannya secara serentak sekitar pukul 11.00 WIB, Kamis (22/10/2015) kemarin.

“Makin banyak uap air di udara semakin mempercepat kondensasi menjadi butir air pada suhu yang makin dingin di udara. Dengan cara sederhana ini diharapkan hujan makin cepat turun, semakin banyak warga yang melakukan ini di masing-masing rumah, ratusan ribu rumah maka akan menciptakan jutaan kubik uap air di udara,” demikian isi pesan beredar tersebut.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menjelaskan beredarnya pesan berantai tersebut yang belum pasti kebenarannya alias HOAX.

Kepala Pusdatin dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho mengatakan informasi yang disampaikan dalam pesan tersebut hoax dan menyesatkan. Tak hanya itu, pesan itu juga telah mencatut nama BMKG.

” Berita ‘baskomisasi’ itu adalah HOAX atau tidak benar. Berita serupa juga pernah beredar luas pada September lalu dengan wadah ember dan baskom. BMKG telah menyampaikan berita itu menyesatkan karena mengatasnamakan BMKG,” ujar Sutopo dalam siaran persnya di Jakarta.

Sutopo menambahkan, ajakan untuk membuat uap air dalam baskom demi membantu turunnya hujan tidak masuk akal. Apalagi, penguapan air laut dan samudera di sekitar Indonesia tak bisa membantu memproduksi kondensasi atmosfer dan membentuk awan.

“Apalagi cuma dengan luasan dari baskom,” ucapnya singkat.

Diketahui, saat ini kondisi perairan laut, cuaca dan atmosfer di Indonesia dalam keadaan kering. Ditambah ada siklon tropis di Filipina yang menarik massa uap air di wilayah Indonesia dan menyebabkan awan-awan tidak terbentuk, termasuk partikel asap yang melayang di atmosfer juga menyerap uap air sehingga awan tidak terbentuk.

“Jika pun ada awan sifatnya mandul, tidak menghasilkan hujan,” katanya sebagaimana dikutip Merdeka.

Atas penjelasan tersebut, Sutopo meminta agar masyarakat tidak turut menyebarkan informasi tersebut baik melalui media sosial maupun pesan berantai.

“Sekali lagi, berita itu tidak benar. Mohon jangan disebarluaskan karena membodohi masyarakat. Justru sebarluaskan berita agar jangan membakar hutan dan lahan lagi.”