Bila Anda Bercerai di Desa Ini, Anda Akan Terkena Denda Rp 1 Juta - Infotainment News Online Terkini

JagatNews

Bila Anda Bercerai di Desa Ini, Anda Akan Terkena Denda Rp 1 Juta

on

Bagi hubungan suami istri tidak sejalan bagaimana mestinya yang diharapkan oleh dua pasangan pasti ujungnya adalah perceraian. Begitu murahnya biaya perceraian menyebabkan perceraian terjadi dengan sangat mudah dan gampang. Namun hal ini tidak berlaku di desa Pekraman Kubu Kabupaten Bangli di Bali, bila anda bercerai anda harus membayar denda Rp 1 juta.

menurut kabar yang dilansir di merdeka.com ada aturan unik diterapkan di desa Pekraman Kubu Kabupaten Bangli, Bali. Untuk menjaga keutuhan perkawinan, diterapkan aturan ketat yang sudah masuk Awig-awig (undang-undang adat desa). Bagi pasangan suami-istri (pasutri) yang bercerai dikenakan sanksi adat berupa upacara Pesamsaman serta dikenakan denda Rp 1 juta.

Menurut Made Sudarma, Jero Penyarikan adat desa Pakraman Kubu Bangli, aturan berupa awig-awig yang mengatur ihwal perceraian ini sudah lama diterapkan. Sudarma membeberkan isi dari awig-awig tersebut.

Bila ada warga yang bercerai (baik sudah mengajukan gugatan perceraian di pengadilan atau belum), maka desa tersebut akan melaksanakan upacara Pesamsaman atau disebut pembersihan lahir batin. Dalam upacara itu juga juga akan digelar balik sumpah karena sebelumnya pasutri melakukan upacara pernikahan untuk sehidup semati.

“Masalah perceraian di desa adat, kami sudah diatur di awig-awig. Itu dibuat melalui hasil pararem (rapat adat),” tutur Sudarma di desa Pakraman Kubu Bangli, Minggu (1/11).

Pasutri yang melakukan perceraian tidak hanya dikenakan sanksi adat berupa upacara pembersihan, tapi juga dikenakan sanksi denda materi. Untuk yang sudah memiliki akte perceraian secara sah maka akan didenda Rp 1 juta.

“Kalau yang belum cerai secara sah, hanya didenda Rp 250.000. Pertimbangannya adat masih bisa berusaha untuk merujukkan kembali,” imbuhnya.

Menurut Made Sudarma hingga saat ini sudah ada enam warganya yang melaksanakan upacara Pesamsaman. Padahal untuk tahun lalu hanya satu kasus, saja. “Tahun lalu hanya satu. Karena kalau ada melapor cerai, kami arahkan untuk rujuk. Tapi seandainya tidak bisa, kami akan ambil tiga bulan setelahnya,” paparnya.

Aturan ini dibuat agar warganya tidak mudah melakukan kawin-cerai. Sudarma mengakui saat ini pasutri terburu memutuskan cerai padahal hanya karena persoalan sepele.

“Pesan yang ingin disampaikan adalah jangan sampai warga Kubu dengan gampangnya memilih menikah lalu memutuskan untuk bercerai,” pesannya.

Recommended for you