Kisah Sartono Pencipta Hymne Guru Yang Hanya Di Gaji Rp 60 Ribu

56

Sapujagat.com – Kabar mengejutkan datang dari pencipta lagu “Hymne Guru” yaitu Sartono telah wafat pada Minggu (1/11/2015) pukul pukul 12.50. Kabar tersebut di benarkan oleh sang istri, Damiati.

Pak Sartono meninggal dunia tadi siang pukul 12.50, setelah proses administrasi selesai langsung dibawa ke rumah duka,” jelas Kepala Perawat RSUD Kota Madiun Atri Laksono.

Kondisi yang sangat memprihatinkan datang dari Sartono, sang pencipta ‘Hymne Guru’ dihari tuanya. Meski prestasi dan jasanya untuk bangsa sangat luar biasa, Sartono tampak serba kekurangan.

Sartono Mempunyai gaji Rp 60 ribu setiap bulannya, tinggal di rumah yang hanya berdindingkan kayu adalah salah satu obrolan yang membuat miris hati. Bahkan bagi kalangan artis seperti Ussy Sulistiawaty.

Ussy menilai Pak Sartono yang kini menginjak usia 75 tahun adalah sosok yang mempunyai jasa besar bagi pendidikan. Ia pun meminta pemerintah lebih memperhatikannya.

“Kondisinya sangat memprihatinkan, nasibnya kayak sekarang nggak dapet perhatian dari pemerintah. Padahal prestasinya dan jasanya itu sangat luar biasa dengan menciptakan Hymne Guru,” tutur pelantun ‘Titik’ itu saat dihubungi melalui telepon, Sabtu (14/5/2011).

Ussy juga berharap pemerintah bertindak cepat. Bahkan bukan hanya untuk Pak Sartono, tetapi kepada pensiunan guru-guru dan ‘pahlawan’ lainnya.

“Bukan hanya Pak Sartono saja, kesejahteraan pengajar-pengajar lain juga banyak yang mengalami nasib sama. Kayak atlet-atlet kita juga banyak yang tidak sejahtera dan kekurangan,” ungkapnya.

Sartono adalah seorang guru kesenian yang tak pernah diangkat menjadi guru tetap. Ia pun tak pernah mendapat royalti dari pembuatan ‘Hymne Guru’. Bahkan, sekarang hidupnya hanya bergantung kepada sang istri. Kini, ia tinggal bersama sang istri di Madiun.

Sartono (lahir di Madiun, Jawa Timur, 29 Mei 1936; umur 79 tahun) adalah seorang mantan guru seni musik yayasan swasta di Kota Madiun, Jawa Timur, yang dikenal dengan prestasinya dalam menciptakan lagu “Hymne Guru, Pahlawan Tanpa Tanda Jasa” pada tahun 1980-an. Sebuah lagu wajib yang kini selalu dinyanyikan di sekolah-sekolah baik tingkat SD hingga SMA di Indonesia.

Sartono mempelajari musik secara otodidak tanpa mengenyam pendidikan tinggi tentang musik. Pada tahun 1978, Sartono adalah satu-satunya guru seni musik yang bisa membaca not balok di wilayah Madiun. Karena keterbatasan alat musik yang ia miliki, lagu “Hymne Guru” ia ciptakan dengan bersiul sambil menorehkannya ke dalam catatan kertas.

Sartono tetap hidup sederhana di rumahnya yang berdinding kayu di Jalan Halmahera Nomor 98 Kelurahan Oro-Oro Ombo, Kecamatan Kartoharjo, Kota Madiun. Ia tinggal bersama istrinya, Damiyati, yang juga pensiunan guru SD setempat dan tidak memiliki keturunan.

Lagu Hyme Guru karangan Sartono merupakan salah satu karyanya di bidang musik. Lagu ini pertama muncul bertepatan dengan momentum Hari Pendidikan Nasional pada tahun 1980.

Kala itu Sartono mengikuti lomba mencipta lagu tentang pendidikan. Selain Hymne Guru, Sartono juga menghasilkan delapan lagu bertema pendidikan lainnya.

Perhatiannya dalam dunia pendidikan dan pengabdiannya sebagai guru membuahkan penghargaan dari Mendikbud Yahya Muhaimin dan Dirjen Pendidikan Soedardji Darmodihardjo pada saat menciptakan lagu “Hymne Guru”.