Berikut Tokoh Komunis Yang Menjadi Pahlawan Nasional Indonesia

107

Sejak era pemerintahan Presiden Soekarno, Indonesia telah menganugerahi gelar pahlawan bagi sejumlah tokoh-tokoh nasional, baik yang mengangkat senjata, tulisan atau pemikirannya untuk melawan penjajahan.

Hari ini, Indonesia memperingati 70 tahun pertempuran di Surabaya. Ribuan rakyat Indonesia memutuskan melawan pasukan Sekutu yang dituding berpihak kepada Belanda dengan pasukan NICA. Lebih dari belasan ribu penduduk Surabaya dan sekitarnya tewas dalam pertempuran itu. Baca juga :Hari Pahlawan, Inilah 50 Gambar DP BBM Ucapan Selamat Hari Pahlawan 10 November

Dari sejumlah nama yang dipublikasikan, ada dua tokoh komunis yang pernah menerima gelar tersebut, siapa saja mereka?

Menurut kabar berita yang dilansir merdeka.com keduanya adalah Alimin dan Tan Malaka. Keduanya adalah tokoh perjuangan sekaligus tokoh komunis pertama.

Alimin bin Prawirodirdjo

alimin

Alimin bin Prawirodirdjo, dianugerahi sebagai pahlawan nasional berdasarkan SK Presiden No. 163 Tahun 1964 tertanggal 26-6-1964. Sejak remaja, Alimin aktif dalam pergerakan nasional. Dia pernah menjadi anggota Boedi Oetomo, Sarekat Islam, Insulinde.

Setelah berpisah dengan Sarekat Islam, Alimin bersama-sama dengan Semaoen dan Darsono mendirikan Perserikatan Komunis di Hindia (PKH) dan kemudian berganti menjadi Partai Komunis Indonesia (PKI). Alimin kemudian dipilih sebagai salah satu pemimpin dalam organisasi tersebut.

Awal 1926, Alimin berangkat ke Singapura untuk berunding dengan Tan Malaka untuk mempersiapkan pemberontakan melawan Belanda. Belum juga menginjakkan kakinya di Indonesia, ternyata pemberontakan sudah dimulai pada 12 November 1926. Dia dan Musso ditangkap polisi Inggris.

Setelah keluar dari penjara, Alimin pergi ke Moskow dan bergabung dengan Komintern. Di sana dia bertemu dengan Ho Chi Minh dan diajak ke Kanton (Guangzhou). Saat itu, ia terlibat secara ilegal mendidik kader-kader komunis di Vietnam, Laos, dan Kamboja untuk melawan penjajah dan merebut kemerdekaan dari jajahan Prancis.

Dia kembali ke Indonesia pada 1946 setelah naskah proklamasi dibacakan. Dia kembali bergabung dengan PKI, sebagai tokoh senior. Sempat menjadi anggota konstituante di era Orde Lama.

DN Aidit mendirikan PKI di awal tahun 1950-an dan menjadi Ketua Komite Sentralnya. Namun Alimin tak diajak bergabung. Alimin lalu meninggal tahun 1964.

Tan Malaka

tan malaka

Tan Malaka juga merupakan salah satu tokoh berpengaruh, baik dalam pergerakan Indonesia maupun komunis. Pria bernama asli Ibrahim Gelar Datuk Sutan Malaka ini semula bergabung dengan Sarekat Islam (SI), di organisasi inilah dia ditawari untuk bergabung dengan PKI.

Akibat rongrongan Semaoen dan Darsono, SI kemudian pecah menjadi SI Putih dan SI Merah. Di sinilah awal bergabungnya Malaka bersama PKI. Akhir 1921, dia diangkat menjadi ketua PKI menggantikan Semaoen yang meninggalkan Indonesia menuju Moskow, Uni Soviet. Berbeda dengan Semaoen yang berhati-hati, Malaka memiliki pemikiran yang radikal.

Meski memimpin PKI, dia tetap membangun hubungan baik dengan Sarekat Islam. Malaka beranggapan, komunis dan Islam memiliki tujuan yang sama dan bisa dipakai dalam revolusi Indonesia. Sebuah pemikiran yang bertentangan dengan kelompok komunis di Barat, mereka menganggap agama adalah alat oleh kelas penguasa.

Pemikirannya yang radikal membuatnya ditangkap pemerintah Hindia Belanda, dia lantas ditangkap saat mendatangi sekolah yang didirikannya dan dibuang ke Kupang. Namun, dia meminta agar dibuang ke Belanda.

Di negeri Kincir Angin itu, dia bergabung dengan Partai Komunis Belanda, dan sempat menjadi kandidat terkuat mengisi kursi kepemimpinan di organisasi itu. Setelah itu, dia pernah mendatangi beberapa negara sebelum kembali ke Indonesia.

Usai proklamasi dibacakan, dia kembali menggunakan nama aslinya setelah 20 tahun memakai nama palsu. Dia menuju Pulau Jawa dan menyaksikan perjuangan rakyat melawan tentara Inggris. Dia melihat adanya perbedaan cara pandang terhadap bentuk perjuangan antara rakyat dengan pemerintah. Dia menganggap pemerintah terlalu lemah menghadapi bangsa Barat.

Dia pun mendirikan Persatuan Perjuangan, dan menggabungkan 140 organisasi kecil tanpa mengundang PKI. Dalam sebuah kongres, organisasi bentukannya hanya menginginkan kemerdekaan sebagai satu-satunya solusi, mendesak Soekarno-Hatta memenuhi harapan rakyat dan menasionalisasi perusahaan perkebunan dan industri asing.

Hidupnya berakhir akibat ditembak mati pasukan TNI saat sedang bertahan saat menghadapi serangan Belanda. Dalam keadaan terluka, dia berjalan ke sebuah pos TNI dan tewas akibat peluru dari saudaranya sendiri pada 21 Februari 1949. Dia ditembak mati oleh Letda Sukotjo dari Batalion Sikatan.