Oh Jadi Ini Toh Penyebab Film Kartun ‘Dragon Ball’ Dilarang Tayang di Indonesia

327

Dragon Ball  adalah sebuah manga dan anime Jepang yang dikarang oleh Akira Toriyama dari tahun 1984 sampai 1995. Albumnya terdiri dari 42 buku dan di Indonesia diterbitkan oleh Elex Media Komputindo. Sebelumnya Dragon Ball juga pernah diterbitkan oleh Rajawali Grafiti.

Dragon Ball bercerita tentang seorang bocah bernama Goku yang hidup di tengah gunung sendirian. Dia lalu bertemu dengan Bulma, seorang gadis muda genius, yang berusaha mengumpulkan 7 bola ajaib yang katanya bisa mengabulkan semua keinginan. Bola-bola tersebut dinamakan Dragon Ball.

Dragon Ball adalah 7 buah bola kristal yang tersebar di seluruh dunia, bola tersebut berwarna jingga yang terdapat pola bintang di dalamnya, apabila seseorang berhasil mengumpulkan 7 buah Dragon Ball maka akan muncul sebuah dewa naga yang mampu mengabulkan sebuah permintaan apa saja, bahkan termasuk menghidupkan orang mati.

Dalam perjalanannya bersama Bulma mencari Dragon Ball, Goku harus berhadapan dengan banyak rintangan, salah satunya adalah dari Tentara Pita Merah. Kelompok ini mempunyai keinginan yang sama dengan Goku dan Bulma.

Anda penggemar film kartun Dragon Ball pasti kaget karena tayangan itu menghilang dari stasiun televisi Global TV. Kartun yang yang sebelumnya tayang setiap hari pukul 17.00 WIB di stasiun TV tersebut kini digantikan dengan kartun Naruto, tanpa penjelasan dari pihak Global TV.

Penghentian penayangan kartun Dragon Ball ini disinyalir terkait dengan teguran Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) beberapa waktu lalu akan kartun ini. Sebagaimana dikutip dari situs resmi KPI, Kpi.go.id, Komisioner KPI, Sujarwanto Rahmat Arifin, Global TV diminta untuk mengurangi unsur kekerasan dalam tayangan kartun seperti di film Dragon Ball. Sayangnya, Sujarwanto tidak menjelaskan secara rinci atau ilmiah, apa kaitan antara kartun Dragon Ball dan perilaku kekerasan anak.

Dikutip dari website jurnalisme warga, Kompasiana, Ihsan Ariswanto menyanggah pendapat KPI tersebut. “Izinkanlah saya sebagai seorang mantan anak-anak yang di masa kecilnya sangat menyukai tayangan kartun asal Jepang tersebut untuk menyanggah pendapat KPI seperti yang terwakilkan oleh ucapan Pak Sujarwanto itu,” demikian ditulis Ihsan.

Menurut Ihsan, kartun Dragon Ball sudah ditayangkan di berbagai negara dan tidak mendapatkan penentangan. Bahkan menurutnya, dari semua kawan yang menyukai kartun Dragon Ball, tidak ada satu pun yang menyerap perilaku kekerasan akibat menonton film kartun itu.

Sebaliknya, sosok Son Goku, sang tokoh utama dalam Dragon Ball, justru menjadi idola anak-anak karena sifatnya yang pantang menyerah dalam berjuang.

“Tidak sedikit teman saya yang jadi mahir olah grafik karena saat kecilnya suka menggambar karakter-karakter di Dragon Ball,” tulis Ihsan yang dikutip TribunNews.

Penghentian tayangan kartun Dragon Ball pun ramai dibicarakan di forum KasKus. Seorang KasKuser dengan nama akun @brandy007 menulis, “Kartun ini kan sudah ditayangkan sejak tahun 96…setelah hampir 20 tahun baru di tegur…KPI lagi ngelawak nih…”

Nextren tidak menemukan teguran mengenai kartun Dragon Ball di halaman arsip sanksi dan himbauan di situs resmi KPI.

Siaran pers “Bahayanya Tayangan Anak dan Kartun” pun tidak bisa diakses pada Selasa (10/11/2015) sore.

Ada pula netter yang penasaran kenapa KPI tidak melarang penayangan sinetron seperti “Anak Jalanan”, “Ganteng-Ganteng Serigala Returns” dan sejenisnya. “Kalo dragon ball udah disensor trus anak2 suruh nonton ggs, kpi mungkin sudah lelah,” sindir @_anatera. “Dragon Ball dilarang KPI, tapi acara gosipin orang pagi” dan acara musik ga mendidik di tayangin #PrayForIndonesiaTV,” kata netter lainnya. “Makin banyak sinetron tak jelas yang tayang ada Anak Jalanan ( anak muda sok kaya, hobi balapan ), ada serial hewan juga , yang ber-evolusi menjadi manusia, acara musik yang keluar dari jalur ( komposisi acara musik hanya 2 persen, sisanya disini diisi dengan gosip dan materi lain diluar musik ),” protes Nikolai Tarkovsky di akun Facebook KPI Pusat.

Sejauh ini belum ada respon apapun dari KPI Pusat maupun Global TV. Protes seputar serial kartun “Dragon Ball” ini sudah mulai terungkap sejak September lalu.