Waduh Di Depok Marak Pasangan Gay, Ini Penyebabnya

49
Teen boys using their cellphones, holding hands

Sapujagat.com – Komisi Penanggulangan AIDS Kota (KPAK) Depok mencatat, 5.791 laki-laki yang tinggal di Depok merupakan LSL (Laki-Laki Seks dengan Laki-Laki). Titik kumpul mereka rata-rata di toilet pusat perbelanjaan yang berada di kawasan Jalan Margonda.

Sekretaris KPAK Depok, Herry Kuntowo, mengatakan bahwa kalangan gay di Depok berada pada usia produktif, yakni 17 tahun sampai 42 tahun. Jumlahnya diperkirakan akan terus meningkat, tandas dia, disebabkan karena beberapa faktor. Salah satunya karena letak kota Depok yang berdekatan dengan Jakarta, kemudian mereka menganggap dengan berhubungan sesama jenis maka tidak ada risiko hamil.

“Berdasarkan data tahun 2014, tercatat laki-laki penyuka sesama jenis di Depok sebanyak 4.932 orang, jumlah itu meningkat pada tahun 2015 dengan estimasi 5.791 LSL. Mereka ada yang sudah berkeluarga, ada yang belum,” katanya kepada Depok News saat, Senin (16/11/2015).

Sekretaris KPA Kota Depok, Herry Kuntowo, mengungkapkan, banyak faktor yang menyebabkan mereka  melakukan hubungan sejenis. Sebagian besar di antaranya adalah akibat kelainan seks. Biasanya, pelaku mengaku ada kenikmatan tersendiri ketika melakukan hubungan melalui dubur.

“Namun ada juga yang murni karena transaksi. Pelakunya bahkan ada yang sudah memiliki istri. Tidak selalu mereka yang terjerat cinta sesama jenis dulunya adalah korban. Ada juga yang sengaja memilih bercinta dengan pria karena risikonya tidak hamil dan lain-lain. Biasanya mereka mengaku di bagian dubur itu kan banyak berkumpul saraf, nah itulah yang membuatnya ketagihan,” jelas Herry pada VIVA.co.id.

Sama halnya dengan fenomena kota berkembang lainnya, saat ini, lanjut Herry, berdasarkan penelusuran pihaknya, Lelaki Suka Lelaki (LSL) atau yang biasa disebut gay di Kota Depok pun telah memiliki komunitas. Namun keberadaan mereka masih sulit terdeteksi.

“Biasanya mereka berkumpul di pusat perbelanjaan. Karena masih menutup diri dan tak mau terbuka, kami pun kesulitan untuk memberikan penyuluhan. Namun tak sedikit juga yang mau datang menemui kami, di situlah kami ajak untuk mengubah perilakunya, dengan harapan apa yang kami sampaikan dapat diteruskan ke teman-temannya yang juga sama LSL,” tutur Herry.

Cara lain untuk meredam risiko penyakit yang ditularkan dari perilaku tersebut, beber Herry, ialah dengan memberikan pemahaman tentang seks aman.

“Apa yang kami lakukan tidak semudah membalikkan telapak tangan. Perlu kesabaran, karena ini hanya mereka dan Tuhan yang tahu. Kami hanya bisa memberikan penyuluhan, membina agar mereka tidak melakukan perilaku menyimpang dan memberikan pengertian tentang seks yang aman, dengan menggunakan alat kontrasepsi,” bebernya.

Lebih lanjut Herry mengatakan bahwa jumlah gay yang sebelumnya sebanyak 4.932 di 2014 lalu, kini naik menjadi 5.791 orang. Data tersebut hingga bulan Agustus.

Seiring meningkatnya perilaku seks yang menyimpang, angka ODHA di Kota Depok pun ikut merangkak naik. Tahun 2014 tercatat, ada sekitar 426 ODHA, dan di tahun ini mencapai 488 kasus dengan 27 orang di antaranya meninggal dunia. “Untuk wanita pekerja seksnya mencapai 1.033,” kata Herry.

Untuk kasus gay, lanjut Herry, jumlah titik terbanyak kumpul berada di kawasan Jalan Margonda, yang merupakan pusat Kota Depok.

“Pelakunya ada juga yang sudah berkeluarga. Banyak alasan, ada yang karena tidak berisiko hamil. Terlepas dari itu semua, faktor lemahnya iman menjadi penyebab perilaku menyimpang ini berkembang. Dan ini harus menjadi perhatian kita semua,” tuturnya.

Sumber

Agen Poker