Petinggi Yakuza Tebesar Tewas, Beginilah Kisah Kematianya

101

Kelompok kriminal Yakuza, siapa yang tidak mengenalnya ? kelompok kriminal ini berasal dari Jepang, Kelompok Yakuza sudah dibentuk sejak lama dan masih bertahan hingga sekarang. Kepolisian maupun aparat militer Jepang tidak berani menyentuh geng kriminal ini.

Tangan dan kakinya terikat. Sekujur tubuhnya penuh darah dan lebam. Sementara, tengkorak kepalanya terlihat seperti habis dihantam benda tumpul. Begitulah kondisi salah seorang bos kartel Jepang, Yakuza dari grup Kobe Yamaguchi-gumi, Tatsuyuki Hishida saat ditemukan istri dan salah satu anak buahnya di rumah kedua mereka di Prefektur Mie di Pulau Honshu.

Sebagaimana dilansir Mainichi Shimbun, polisi mengindikasikan kematiannya berhubungan dengan pecahnya geng terbesar yakuza itu. Pihak keamanan juga memastikan tewasnya Hishida sebagai awal kekerasan dimulai. Menurut CNN, geng itu pecah pada bulan Agustus lalu.

Bos besar Yamaguchi-gumi dilaporkan menendang 13 petingginya karena dianggap tidak setia. Sebelas di antaranya membentuk kelompok baru. Hishida adalah petinggi kedua Yamaguchi-gumi memimpin kelompok di Aio-kai yang bermarkas di kota Yokkaichi di Prefektur Mie.

Pria berusia 59 tahun itu sebelumnya selama dua hari tak bisa dihubungi oleh keluarga dan anggotanya. Ia ditemukan tewas pada Minggu 15 November pukul 17.40. Oleh istri dan salah satu anak buahnya, Hishida segera dilarikan ke rumah sakit saat mereka menemukannya. Sesampai di rumah sakit, dokter menyatakan bahwa ia telah meninggal.

Salah seorang polisi Yoshihiro Nakamura dari Japan Police Organized Crime Division mengatakan, hasil dari otopsi mengatakan, kematian Tatsuyuki Hishida akibat traumatik pukulan dan hantaman di sekujur tubuhnya.

Tensi antara kelompok yakuza tersebut kian memanas semenjak pecah. Yamaguchi-gumi membatalkan acara tahunan Halloween di Kobe tahun ini dengan alasan keamanan.

Ini bukan kali pertama Yamaguchi-gumi pecah. Pada 1985 kelompok itu sempat guncang dan banyak faksi memisahkan diri. Selama bertahun-tahun publik Jepang menderita berbagai kekerasan termasuk pembunuhan, penembakan, dan temuan bahan peledak di berbagai kota.