Begini Kronologi Lengkap Rusaknya Kebun Bunga Amaryllis Oleh Para Pengunjung

142

Sapujagat.com – Kekayaan Bumi Handayani seakan tidak ada habisnya. Dunia pariwisata terus berkembang. Kali ini, sebuah halaman di salah satu rumah di Padukuhan Ngasemayu, Desa Beji, Kecamatan Patuk berubah menjadi indah dengan kemunculan hamparan bunga berwarna orange.

Karena keelokannya, taman bunga ini kini diburu orang untuk sekedar untuk berselfie dengan bunga yang dulu diangap benalu ini.

bunga-lily

Sebuah taman bunga amarilis di wilayah Desa Beji, Kecamatan Patuk Gunung Kidul, Yogyakarta, sempat jadi perhatian netizen karena keindahannya yang disebut-sebut mirip dengan kebun bunga Keukenhof Belanda. Sayang sekali, keindahan bunga berwarna pink cerah dan hanya mekar di awal musim hujan ini harus musnah seketika karena ulah pengunjung tak bertanggung jawab.

Serbuan pengunjung yang kebanyakan remaja putri ke taman milik bapak Sukadi itu membuat bunga-bunga yang sedang merekah cantik tersebut terinjak-injak, lalu layu dan rusak. Hampir seluruh tanaman yang berada di lahan seluas 2.350 meter persegi itu tak lagi tersisa karena hancur.

bunga-rusak-di-gunungkidul

Pengunjung yang keranjingan melakukan selfie atau memotret diri sendiri di antara bunga, tanpa mengindahkan kembali kondisinya. Akibat ulah para pengunjung tersebut keindahan bunga Amaryllis di lahan seluas lebih kurang 2.000 meter persegi milik Bapak Sukadi menghilang.

Hal ini pun membuat seorang pengunjung bernama Novianto Setiawan, geram. Lewat akun facebook pribadinya, Novianto menceritakan bagaimana Bapak Sukadi membuat taman itu hingga dirusak oleh para pengunjung yang tidak bertanggung jawab. Berikut cerita Novianto Setiawan lewat akun facebook :

SEKELUMIT KISAH MIRIS SI MANIS AMARYLLIS

Puspa Pathuk, magnet baru di Jogja berupa taman bunga ala eropa dimana bunga yang tumbuh terasa spesial buat saya karena adalah nama yang saya sematkan pada putri saya, Valeska Odelia Amaryllis.

Sang pemilik adalah orang yang paling menarik untuk saya temui yang belakangan saya ketahui bernama Bapak Sukadi. Dari beliaulah saya mendapat banyak cerita di antara ratusan pengunjung yang bahkan mungkin tak permisi dulu berkunjung dan ber-selfie ria, tak sempat berfikir untuk kulo nuwun pada tuan rumah, tak peduli bahwa mereka masuk halaman rumah orang.

Tahun 2006 beliau mulai membudidayakan bunga Amaryllis atau lebih akrab mereka sebut sebagai Brambang Procot, hingga lambat laun perluasan area tumbuh memenuhi tegalan di depan rumahnya dan saat musim berbunga yang hanya setahun sekali ini mencapai puncaknya hari Selasa lalu yang kemudian terunggah ke media sosial dengan visual luar biasa mempesona dan bisa ditebak efeknya.

Jumat kemarin sekitar 1500 orang tumpah ruah berkunjung sepanjang hari mendesak, menginjak, menindih, merusak rumpun tanpa ampun, sengaja maupun tidak. Bapak Sukadi tak punya daya mencegah, tak bisa berbuat banyak, kecuali harus rela kebun bunganya terkoyak koyak.

Pun begitu. Beliau secara luar biasa masih meminta maaf via announcer kepada pengunjung jika panorama sudah tak seindah beberapa hari sebelumnya. Lalu jika yang empunya saja begitu menghargai tamunya, bagaimana empati dari pihak sebaliknya??

Beliau tidak menyalahkan siapapun karena memang kebunnya tidak di desain untuk wisata sebelumnya sehingga akses dan segala kelengkapan tak dipersiapkan mengantisipasi ribuan wisatawan dadakan.

Beliau cuma berharap ada sedikit kepedulian untuk perawatan kebunnya lewat kotak sukarela di depan pintu masuk yang itupun lebih banyak di lewati orang orang dengan wajah sok cuek dan tanpa dosa sehingga hitungan ratusan orang di kebun dengan beberapa lembar di kotak jelas bukan jumlah yang seimbang.

Bapak Sukadi berencana mengembangkan kebunnya menjadi salah satu destinasi wisata Gunungkidul yang memang sedang jadi primadona. Barakallah Pak, semoga kisah miris di kebun bapak yang bapak sikapi dengan ikhlas dan bersahaja menjadi pembuka rizki yang baru, yang terus mengalir tak berkesudahan. Aamiin…

Akhirnya, sebelum berpamitan dan meminta izin berfoto dengan beliau saya selipkan selembar ratus ribuan sebagai sekedar bentuk simpati yang tentu amat tak sebanding dengan mahalnya keindahan kebunnya yang kini compang-camping, sambil melirik tuan dan nyonya bermobil bergaya parlente yang pastinya jauh lebih kaya daripada saya tapi entah rasa kepeduliannya.

MY TRIP MY ADVENTURE ?
BOLEH EKSIS tapi JANGAN NGAWUR !

PUSPA PATHUK GUNUNG KIDUL, SABTU , 28 NOVEMBER 2015

Cuek bebek

Menurut Info yang beredar, salah satu pengunjung yang menyebabkan rusaknya bunga-bunga indah itu diketahui pemilik akun bernama Hesti Sundari. Dalam postingannya, Hesti sepertinya sudah tahu kalau foto-fotonya jadi heboh di sosial media. Namun, dirinya sepertinya tak menghiraukan hal tersebut.

Melalui caption fotonya inilah tanggapan Hesti mengenai kehebohan tersebut:

gue foto di sini masalah? bodo amat suka suka gue dong.ngurus hidup sendiri aja belum tentu bisa. sok sokan ngurusi bunga layu di kebun.

Ini fotonya:

Hesti Sundari

Masyarakat Gunung Kidul menyebut bunga amarilis sebagai Puspa Patuk, karena di wilayah itu ia tumbuh dengan subur. Pak Sukadi yang memiliki lahan pun pada akhirnya membudi dayakannya karena banyak orang ingin membeli bunga tersebut.

kebun-bunga-hebohkan-nitizen-7yf6le9jg0

“Awalnya karena banyak pembeli saya yang berminat ingin membeli bunga amarilis ini, yang tumbuh di sekitaran rumah saya. Dari situ saya punya ide untuk membudidayakan bunga tersebut,” jelas dia dilansir laman Liputan6.

Dengan modal Rp2 juta, ia pun mulai menanam bibit di lahan sekitar rumahnya tersebut. Setangkai amarilis dibanderol harga Rp5000, dan bisa ditanam kembali.

kebun-bunga-hebohkan-nitizen-7yf6le9jg0

Sumber