Ini Cerita di Pengungsian Gafatar Menurut Pengakuan Mantan Anggota Gafatar - Infotainment News Online Terkini

JagatNews

Ini Cerita di Pengungsian Gafatar Menurut Pengakuan Mantan Anggota Gafatar

on

Anggota Gafatar – Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar), Kejaksaan Agung (Kejagung) sebagai lembaga yang berkompeten telah resmi menyatakan Gafatar sebagai organisasi terlarang, karena mengajarkan dan menjalankan ajaran agama yang berindikasi menyimpang dengan kedok kegiatan sosial.

Lantas bagaimanakah cerita di pengungsian Gafatar yang sudah dilarang oleh Kejaksaan Agung?

Tatapan matanya kosong seperti orang linglung. Sesekali ia mengumbar senyum. Begitulah ekspresi  seorang pria yang duduk di sebuah kursi tenda pengungsian para anggota Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) asal Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Lelaki itu mengaku bernama Doni. Ketika ditemui di tenda di posko pengungsi eks anggota Gafatar di Pembekalan Angkutan Daerah Militer (Bekangdam) XII/Tanjungpura, Kamis, 21 Januari 2016, ia irit berbicara. Sepertinya ia berusaha mengingat.

“Saya juga tidak tahu,” itulah ucapan Doni yang dikutip Liputan6 perihal tujuan datang ke Kabupaten Mempawah, Kamis (22/1/2016). “Tahunya bertani di sana,” kata dia.

Pengungsi mantan Gafatar sangat sulit diwawancarai awak media. Hanya ada beberapa saja yang bersedia. Itu pun melalui pendekatan luar biasa, termasuk Doni ini.

Ia bercerita datang bersama keluarganya ke Kalimantan Barat. “Selama sebulan ini saya bertani di sana. Nanam padi. Kayak pekerja tani. Dwi Arianto yang koordinir,” tutur dia dengan muka mengerut.

“Ada kerja sama dengan Dinas Pertanian di sana. Mereka pinjamkan traktor. Dipinjamin. Dengan penduduk setempat enggak ada masalah. Ini malah tahunya dari kampung lainnya,” ujar Doni.

Guburnur Kalimantan Barat, Cornelis, berkunjung ke pengungsi eks anggota Gafatar di Bekangdam XII/Tanjungpura, Kalimantan Barat. Menurut orang nomor satu di Kalimantan Barat ini, terkait pengungsi eks anggota Gafatar, opsi pemulangan mereka ini merupakan opsi terakhir. Langkah ini diambil pemerintah untuk menyelamatkan nyawa para eks Gafatar.

“Rakyat Indonesia boleh bertempat tinggal di mana saja di wilayah NKRI. Yang penting dilakukan dengan prosedural UU kependudukan. Dan tidak dengan maksud tertentu yang dapat mengacaukan stabilitas keamanan di tempat kita ini,” kata Cornelis.

Cornelis meminta wilayahnya jangan dikotori. Para eks Gafatar ini dipulangkan pada Jumat, 22 Januari 2016.

“Daripada nanti mereka tetap di sini menjadi korban jiwa akibat amukan massa. Jika mereka memang datangnya baik-baik kenapa tidak diterima. Namun harus lengkap dokumen kependudukannya,” kata Cornelis.

Sebelumnya, Menurut Ketua Lembaga Penelitian dan Pengkajian Islam (LPPI), Amin Djamaludin, yang awal pekan ini melaporkan Gafatar kepada Kejagung, organisasi tersebut bukan sekedar menyimpang namun lebih jauh lagi berambisi menyebarkan agama baru di Indonesia.

“Mereka itu ingin menyatukan agama Islam, Yahudi, dan Nasrani,” ujarnya kepada Beritasatu.com.

Berhati-hatilah dan jaga keluarga Anda untuk tidak mengikuti organisasi-organisasi yang menimbulkan kecurigaan dan dilarang negara.