Kasus Masinton, Dita: “Dia Tonjok Saya Dua Kali”

83

Kasus Masinton – Pemberitaan mengejutkan datang dari anggota DPR Fraksi PDI Perjuangan, Masinton Pasaribu, dilaporkan ke Badan Reserse Kriminal Polri. Ia dilaporkan atas tuduhan pemukulan terhadap staf ahlinya yang bernama Dita Aditya.

Dita yang juga kader DPW Partai Nasdem DKI Jakarta itu disebut dipukul dua kali pada 21 Januari 2016 malam. Tak hanya melapor ke polisi, Dita yang merupakan kader Partai Nasdem itu juga meminta pendampingan hukum ke Lembaga Bantuan Hukum Asosiasi Perempuan untuk Keadilan (LBH APIK) di Jalan Raya Tengah, Kramat Jati, Jakarta, Senin (01/02/2016). Dita menceritakan secara lengkap peristiwa dugaan penganiayaan yang terjadi kepada diri. Dan berikut ini pengakuan lengkapnya:

Kronologi Kasus Masinton Menurut Dita

Kejadian itu menurut Dita, bermula pada Kamis (21/01/2016) lalu, saat dia dan temannya sesama kader Partai Nasdem tengah menghabiskan malam di sebuah bar bilangan Cikini, Jakarta. Tiba-tiba, Masinton menghubunginya dan menanyakan keberadaannya.

Setelah diberi tahu lokasinya, Masinton yang merupakan anggota Komisi III DPR itu menanyakan lagi tujuan Dita berkumpul dengan temannya di sana.

Ngapain lo di sana,” kata Dita menirukan ucapan Masinton.

Menanggapi pertanyaan atasannya, Dita menjawab dia dan temannya hanya sekedar bercengkrama. Tidak lama setelah Dita menjawab pertanyaan tersebut, Masinton menyuruh supirnya masuk ke dalam bar tersebut untuk mengajak pulang.

Setelah Dita keluar, sebutnya, Masinton kembali meluapkan emosinya. “Ngapain loe masih di luar malam-malam gini, malu-maluin aja,” kata Dita kembali menirukan perkataan anggota Fraksi PDIP tersebut.

Masinton pun langsung meminta tenaga ahlinya masuk ke dalam mobil dan menyuruh Husni, supirnya mengambil mobil Dita yang terparkir di kantor DPW Partai Nasdem DKI Jakarta, bilangan Gondangdia, Jakarta.

Kemudian, Masinton yang semula mengatakan hendak mengantar pulang tenaga ahlinya ke sebuah apartemen bilangan Cawang, Jakarta, tutur Dita, malah membawanya mengitari Ibukota Indonesia.

Selama perjalanan itu, Dina menyebutkan Masinton terus menanyakan isi pembicaraan tenaga ahlinya dengan temannya di bar itu.

Ceritain apa lo sama mereka,” tiru Dita.

Sembari menanyakan isi obrolannya dan temannya, Dita mengaku dia terus dimaki oleh atasannya. Beberapa saat setelah dibawa Masinton dalam mobilnya, Dita melihat kendaraan itu telah mendekati apartemen miliknya di bilangan Cawang.

“Karena sudah dekat apartemen, saya minta turun tapi dia malah bawa mobil masu ke jalan tol,” tutur Dita sebagaimana dilansir TribunNews.

Karena kepalanya pusing  dan tidak tahan lagi dengan cercaan dari Mansinton, Dita memukul-mukul dashboard mobil yang ditumpanginya.

“Lalu dia pukul saya dua kali dengan tangan kirinya,” sebut kader Partai Nasdem DPW DKI Jakarta itu.

Dita yang merasa kesakitan karena pemukulan itu, langsung menangis dan hendak menelepon temannya. Masinton yang melihat stafnya hendak menelepon langsung merampas telepon genggam milik Dita.

Merasa kesal setelah dipukul dan telepon genggamnya dirampas, Dita mengaku sempat mencoba mengambil alih kendali setir mobil. Upaya Dita yang membuat mobil itu hampir kehilangan kendali, membuat Masinton menghentikan laju kendaraannya dan mengembalikan telepon genggam milik tenaga ahlinya.

Melihat telepon genggamnya telah dikembalikan dan mobil yang membawanya berhenti, Dita langsung keluar.

Saat keluar dari mobil Masinton, Dita menceritakan peristiwa yang menimpanya kepada Husni, supir anggota DPR itu.

Beberapa saat setelah mengadu pada Husni, Dita memberhentikan taksi dan dibawa ke Mapolsek Jatinegara. Dari kantor polisi itu, Dita diminta melakukan visum di Rumah Sakit Umum Daerah Budi Asih, Cawang, Jakarta.

Dari rumah sakit, Dita kembali ke Mapolsek Jatinegara dan dibuatkan berita acara pemeriksaan (BAP). Polisi kemudian memintanya kembali pada Sabtu (23/01/2016).

Seusai melaporkan dugaan penganiayaan, perempuan 27 tahun itu, menjalani rawat inap di Rumah Sakit Aini selama tiga hari.

Sementara Wibi Adrianto yang hadir menemani pelaporan ini menjelaskan pihaknya baru mengetahui kejadian ini setelah Dita hadir dengan mata lebam pada rapat DPW DKI Jakarta.

“Matanya lebam kami tanya. Dita sempat tidak mau mengaku. Setelah beberapa saat baru dia ceritakan,” kata Wibi pada kesempatan yang sama.

Menanggapi cerita rekannya, Wibi langsung menelpon Masinton. Namun, Masinton yang merupakan kader PDIP itu tidak mau mengaku.

“Daripada berdebat, kami laporkan saja ke penegak hukum,” katanya.

Dalam pelaporan tersebut, Masinton dilaporkan melanggar Pasal 351 Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) tentang penganiayaan dengan ancaman penjara dua tahun delapan bulan dan denda Rp 450 ribu.

Kronologi Kasus Masinton Menurut Masinton Sendiri

Pemberitaan yang menyudutkan Masinton ini buru-buru dibantah olehnya. Menurutnya, peristiwa tersebut dipolitisasi dan bagian dari pembunuhan karakternya. Masinton menuturkan mulanya ia hendak pulang ke rumah dinas di Kalibata setelah menghadiri suatu kegiatan. Di tengah jalan, tenaga ahlinya, Abraham, mendapat telepon dan meminta izin untuk turun, karena ingin menjemput Dita.

“Dita mabuk, minta tolong saya yang jemput untuk bawa mobil sekaligus anter pulang,” kata Masinton menirukan ucapan Abraham seperti diberitakan Tempo.

Ia pun berinisiatif untuk mengantar stafnya tersebut hingga ke sebuah bar di kawasan Cikini, tempat Dita berada. Sesampainya di sana, Dita yang dalam kondisi mabuk diantar pulang dengan menggunakan mobil Masinton.

Sementara itu, mobil Dita dibawa sopir pribadi Masinton. “Dia duduk di depan, kemudian tenaga ahli aku (Abraham) yang bawa mobil. Aku duduk di belakang,” ujarnya.

Masinton menuturkan mereka jalan ke arah Cawang, Jakarta Timur, untuk mengantar Dita pulang, tapi sesampainya di daerah Otista, Dita yang dalam kondisi mabuk tiba-tiba menarik setir mobil.

Mobil yang oleng membuat tenaga ahli Masinton refleks menepis tangan Dita. “Refleks sopir (Abraham) ngerem mendadak, terus menepis tangannya tapi terkena wajah,” tuturnya. Pascainsiden tersebut, Masinton mengaku melihat ada memar di wajah bagian mata Dita, ia mengaku sudah mengajak Dita untuk berobat tapi ditolaknya lantaran merasa tidak ada masalah.

Masinton pun mempertanyakan laporan yang baru dibuat hari ini, 31 Januari 2016, menurut Masinton, hal itu menunjukkan ada upaya pembunuhan karakternya yang sedang berseteru dengan Partai Nasional Demokrat. Peristiwa itu sendiri terjadi pada 21 Januari lalu.

“Ini politisasi berkaitan character assassination (pembunuhan karakter),” ujarnya.

Sementara itu Ketua DPP PDIP, Hendrawan Supratikno menyarankan agar Dita Aditya Ismawati, staf Masinton Pasaribu agar menarik laporannya. PDIP berharap kasus ini bisa diselesaikan baik-baik.

“Saya sarankan ke Dita. Selesaikan baik baik. Staf dengan anggota harus sinergis, saling memperkuat,” kata Ketua DPP PDIP Hendrawan Supratikno di Gedung DPR, Senayan, Jakarta Pusat, Senin.

Hendrawan seperti yang dikutip dari Lensa Indonesia mengatakan partainya sudah menerima klarifikasi dari Masinton tentang laporan tersebut. PDIP sendiri, kata Hendrawan, percaya kadernya tak melakukan hal tersebut.

“Ya kalau saya bisa sarankan demikian (cabut laporan). Kecuali dijadikan bargaining (alat tawar),” tambahnya.

Salah satunya adalah adanya keterlibatan DPW Nasdem DKI saat melaporkan dugaan penganiayaan tersebut. Dita sendiri sebelumnya disebutkan sebagai kader Nasdem, namun Masinton menyatakan Dita punya kartu keanggotaan PDIP.

“Kenapa melibatkan DPW Nasdem? Ini jadi dibawa ke tataran politis. Ada agenda apa ini Dita?” ucap Hendrawan.

Dita Merasa Masinton Cemburu

Dita Aditya (27) sebagaimana dilansir kompas, menyatakan tak memiliki hubungan spesial dengan anggota Komisi III DPR, Masinton Pasaribu. Meski begitu, dia mengakui bahwa Masinton amat protektif terhadapnya.

“Dita menganggap ini hubungan relasi kerja. Sejauh ini, menurut Dita, enggak ada relasi (asmara) dan enggak ada ungkapan perasaan,” kata Direktur LBH Apik Jakarta Ratna Bataramunti, di kantor LBH Apik, Jakarta Timur, Senin (1/2/2016).

Menurut Ratna, sikap protektif itu ditunjukkan antara lain pada sikap terlalu mengontrol Dita, misalnya tak boleh pulang malam. Dita pun mulai kerap merasa diikuti oleh orang tak dikenal.

“Awalnya, dia enggak masalah diproteksi begitu. Akan tetapi, ke sininya kayak model cemburu. Kami sudah tanya. Yang disampaikan, korban hanya relasi kerja,” ujar Ratna.

Ratna melanjutkan, Dita menganggap Masinton sebagai mentornya. Masinton dianggap berjasa pula membawa karier Dita di politik. Masinton juga dekat dengan keluarga Dita.

“Sudah dekat, semacam kekeluargaan. Ibunya (Dita) juga menitipkan dia untuk belajar politik. Kenal sudah 6 bulanan,” ujar Ratna.