PRT Di Siksa Habis-Habisan, Majikan Sedang Diburu

75

Pembantu Rumah Tangga – Malang nasih PRT (Pembantu Rumah Tangga) bernama Sri Siti Marni alias Ani (20) harus turun dari lantai tiga untuk kabur karna tak tahan lagi di siksa majikan. Ani bekerja sebagai PRT di Jalan Moncokerto lll, RT 14/ 12 nomor 15, Utan Kayu Selatan, Matraman, Jakarta Timur.

Sri Siti Marni alias Ani melaporkan kasus penganiayaan yang menimpanya kepada polisi. Masih tersirat ekspresi takut dan trauma pada perempuan bertubuh mungil tersebut.

“Kamu jangan takut, sekarang kamu sudah di kantor polisi,” kata seorang petugas berusaha menenangkan Sri Siti Marni alias Ani (20).

Kronologi Kasus Penganiayaan PRT Ani

Ani melapor kepada petugas bahwa ia di siksa dari 2009. Pembantu pria di rumah tersebut bernama Ari (21) juga terlibat. Korban mengaku, saat berbuat salah sedikit, dia langsung dianiaya.

Setelah memeriksa korban, polisi dengan dua mobil menuju ke lokasi kejadian di Jalan Moncokerto III, RT 14 RW 12, Utan Kayu, Matraman, Jakarta Timur. Rumah tersebut mulanya seperti tak berpenghuni. Namun, setelah digedor muncul sosok laki-laki dari dalam rumah.

Ia tak lain adalah Ari, si pembantu pria. Sikap Ari yang tidak kooperatif membuat petugas terpaksa mengikat kedua tangannya. Polisi disaksikan pengurus warga akhirnya masuk menggeledah rumah, sambil membawa korban. Petugas mencari pemilik rumah namun yang bersangkutan sedang keluar.

Dari keterangan beberapa warga, termasuk Ketua RW 12, Sugiarti, kasus penganiayaan ini sudah tercium warga. Pasalnya, warga kerap mendengar suara rintihan minta tolong. Namun, warga kesulitan membuktikan karena sikap tertutup para pelakunya.

Tak hanya itu, keluarga pelaku juga pernah marah-marah ke warga saat hendak mencari tahu soal kejadian.

“RT-nya pernah dipanggil mau digebukin. Mau dituntut kita. Penganiayaannya udah sering,” ujar Sugiarti.

Tak sedikit warga yang sudah geram dengan aksi penghuni rumah. Warga bersyukur polisi mau datang untuk membawa pelakunya bertanggung jawab. Ari diciduk petugas berserta barang bukti gayung, sikat, gagang sapu dengan bercak darah, dan lainnya.

Kepala Polsek Matraman Komisaris Suyoto mengatakan, berdasarkan keterangan korban, sang majikan adalah otak penganiayaan PRT kasus kekerasan dalam rumah tangga ini.

“Otak (penganiayaan)-nya majikan korban yang namanya MHM, umurnya sekitar 40 tahunan,” ujar Suyoto di Mapolsek Matraman, Selasa (9/2/2016).

Polisi Buru Majikan

Jajaran Polsek Metro Matraman saat ini tengah memburu MHM. Saat polisi mendatangi rumah, majikan Ani tidak ada.

“Belum ini pengejaran masih. Masih kita buru, tadi saat kita tindak lanjuti laporan korban dan ke rumah itu, MHM tidak ada di rumah,” kata Kapolsek Matraman Kompol Sutoyo saat dihubungi Liputan6.com, Jakarta, Selasa malam.

Kendati, Sutoyo mengaku sudah mengamankan 1 orang yang diduga kuat ikut menganiaya Ani, yakni A.

“Baru 1 yang diamankan, pembantu laki-lakinya. Jadi BAP sementara korban, pelakunya itu majikannya dan pembantu laki-lakinya. Korban belum bisa dimintai keterangan banyak, karena dirawat di RS Polri dan divisum,” kata dia.

Sutoyo membenarkan, Ani diduga sudah lama dianiaya MHM (Meta Hasan Mudalifah) dan A (Ari) di rumah berlantai 3 itu. Saat ini, penyidik juga terus mengumpulkan keterangan dari beberapa saksi.

“Tadi pagi korban sempat bisa keluar dari rumah, kemudian melompat pagar dan oleh warga dibawa ke Pospol Kebon Sirih, kemudian ke sini. Kita periksa saksi-saksi, ya tetangga-tetangganya,” tutup Sutoyo.

Polisi pun mencari Meta lantaran saat digerebek rumahnya, yang bersangkutan sedang tidak berada di tempat. Jika tak ketemu, polisi bisa menerbitkan daftar pencarian orang (DPO) atas pelaku.

“Kita upayakan cari dulu (Meta). Kalau tidak ketemu kita terbitkan DPO,” ujar Suyoto.

“Jadi dari BAP sementara korban, pelakunya majikannya dan pembantu laki-lakinya itu. Sementara korban kita tidak bisa minta keterangan banyak karena sedang dirawat di RS Polri dan di visum,” ujar Suyoto.

Penuturan Penganiayaan Oleh Ani

Ani mengaku sering dipukul MHM dengan alasan tidak jelas. Tak hanya sang majikan, pembantu laki-laki yang ada di rumah tersebut berinisial A juga diduga sering ikut-ikutan memukulinya.

“Alasannya dituduh mencuri uang. Kalau disiram air panasnya sudah lama. Kalau salah disiram air panas, terus saya ada bekas seterika,” kata Ani di Mapolsek Metro Matraman, Jakarta Timur, Selasa (9/2/2016).

Kasubag Humas Polres Metro Jakarta Timur Kompol Husaimah mengatakan, dari hasil pemeriksaan sementara, Ani bekerja sejak 2009. Selama kurang lebih 7 tahun atau sampai 2016, Ani tidak diperbolehkan keluar rumah dan mengalami dugaan penganiayaan.

“Menurut keterangan korban, tindakan (penganiayaan) sudah sering dilakukan majikannya sejak 2009. Tapi korban tidak bisa melapor karena tidak diperbolehkan keluar oleh majikannya,” kata Husaimah.

Ani mengaku kerap dipukuli majikan dengan gagang sapu dan gagang besi pel ke kepala hingga berdarah. Dia juga pernah dianiaya menggunakan air selang ke telinganya, hingga berdarah dan memar.

“Lanjut memakai sikat lantai dan dipukul ke arah mulut dan hidung hingga luka dan berdarah. Sekitar jam 10.30 WIB tadi korban melarikan diri dari rumah majikan melalui lantai 3 dengan menggunakan kabel, lalu turun ke rumah tetangga dan korban dibawa ke Polsek Matraman,” papar Husaimah.

Berita Terkait

Penyiksaan Pembantu Rumah Tangga Terjadi Lagi Kini 3 Pembantu di Sunter Tak Digaji dan Disiksa

Anggota DPR Berinisial FS alias IH Siksa Pembantu, Begini Kronologinya

Inilah Video Wawancara Dengan Agus Pembunuh Angeline Yang Bekerja Sebagai PRT