Dulu Kalijodo Jakarta Bernama Peh Cun - Infotainment News Online Terkini

JagatNews

Dulu Kalijodo Jakarta Bernama Peh Cun

on

Kalijodo Jakarta – Ramai pemberitaan tentang penggusuran Kalijodo. Berawal dari kasus ‘fortuner maut’, nama Kalijodo rajin mondar-mandir di telinga publik. Pasalnya, sebelum kecelakaan nahas yang terjadi pada Senin (8/2) sekitar pukul 04.10 WIB tersebut, sang pengemudi, Riki Agung Prasetyo, baru saja menghabiskan malam di kawasan Kalijodo.

Budayawan Betawi Ridwan Saidi sebagaimana dilansir kompas,  menyebutkan kawasan Kalijodo dulu hanya dikenal dengan sebutan Kali Angke, sekitar tahun 1950-an.

karena di sana sering diselenggarakan perayaan peh cundan pesta air, maka lama-kelamaan dinamai Kalijodo hingga sekarang.

“Dulu disebut peh cun di Kali Angke, belum Kalijodo. Begitu terkenal, maka dinamailah Kalijodo, karena orang dapat jodoh di situ,” kata Ridwan saat berbincang dengan Kompas.com di kediamannya, Jumat (12/2/2016).

Orang-orang bisa mendapat jodoh bermula saat pesta air dalam perayaan peh cun. Pesta air itu diikuti oleh muda-mudi laki-laki dan perempuan yang sama-sama menaiki perahu melintasi Kali Angke.

Kala itu, setiap perahu diisi oleh tiga sampai empat orang laki-laki atau perempuan. Di perahu tersebut, si laki-laki akan melihat ke perahu yang berisi perempuan.

Jika ada yang ditaksir oleh laki-laki itu, maka dia akan melempar sebuah kue ke arah sang perempuan.

Kue yang dilempar bernama tiong cu pia, yakni kue dari campuran terigu yang di dalamnya ada kacang hijau.

Kue yang sama akan dilempar oleh si perempuan kalau dia juga menyukai laki-laki yang melemparinya kue.

Adapun perayaan peh cun diikuti oleh warga keturunan Tionghoa. Meski begitu, warga lainnya yang tinggal di sepanjang aliran Kali Angke dulu suka menonton perayaan tersebut.

Hiburan bagi mereka jika melihat ada yang menarik dalam perayaan pesta air yang cukup terkenal di masanya.

“Perahu bujangan laki-laki bisa kebalik, saking nafsunya mencari ewek-cewek, panggilannya xiao ce. Ramainya luar biasa, ada musik juga. Enggak jauh dari sana kan ada pangkalan tukang gambang, di jembatan gambang,” tutur Ridwan.

Di masa itu, air di Kali Angke pun jernih dan bersih. Sangat berbeda dengan kondisi saat ini, di mana air di kali kotor.

Kawasan itu pun kini lebih dikenal sebagai tempat perjudian dan prostitusi bagi kelas menengah ke bawah.

Menurut Ahok, PSK Kalijodo banyak yang bukan warga Jakarta. Para pemilik usaha juga tak mungkin tinggal di area setempat.  “Itu kan rata-rata KTP bukan DKI. Yang punya situ rata-ratanggak tinggal di situ, bos-bosnya mana mungkin tinggal di situ. Cewek-ceweknya pasti bukan KTP DKI,” imbuh Ahok, seperti dilaporkan Liputan6.

 

Recommended for you