Pengakuan Anton Medan Tentang sosok “Daeng Aziz”

129

Daeng Aziz – Persoalan penggusuran tempat prostitusi Kalijodo membuahkan Daeng Aziz sebagai tersangka.  Abdul Aziz atau yang akrab Daeng Aziz kaget bukan kepalang saat menyandang cap tersangka kasus dugaan prostitusi di Kalijodo. Pria penguasa di Kalijodo ini siap membela diri.

Daeng Aziz diduga terlibat kasus perdagangan perempuan. Perempuan yang diperdagangkan Daeng Aziz jumlahnya banyak dan berasal dari Jawa Barat.

“Daeng Aziz sudah kami tetapkan sebagai tersangka atas dugaan kasus prostitusi,” Direktur Reskrimum Polda Metro Jaya Kombes Pol Krishna Murti.

Dengan label tersangka, Daeng Aziz yang disebut-sebut sebagai pemasok tunggal untuk logistik minuman keras di Kalijodo ini juga bakal terbalut ‘baju baru’ warna oranye yang biasa dipakai para tersangka kasus pidana saat menjalani pemeriksaan kelak.

Sosok Daeng Aziz Di mata Anton Medan

Anton Medan (69), mantan narapidana kasus perampokan dan perjudian yang kini bertobat pernah punya lapak judi di Kalijodo, Jakarta Utara. Dia juga punya cerita soal sosok Abdul Aziz atau Daeng Aziz. Bagaimana kisahnya?

Pria yang kini bernama Muhammad Ramdhan Effendi itu sebagaimana dilansir detik, masuk ke Kalijodo pada tahun 1972 sampai 1979. Setelah itu, dia dipenjara selama 12 tahun. Bebas pada tahun 1986, Anton kembali ke Kalijodo pada tahun 1988. Anak buahnya menyewa lapak ke Daeng Aziz sebanyak tiga titik.

Anton membuka kawasan perjudian yang disebutnya kasino. Ada roullete, dadu koprok, ta shiao dan kartu cap jie kia. Rata-rata omsetnya bila dikonversi dengan nilai rupiah saat ini adalah Rp 1,5 miliar per hari.

“Setelah saya masuk Islam tahun 1992, saya sudah nggak ada urusan lagi dengan judi di sana,” cerita Anton saat berbincang dengan detikcom, Senin (22/2/2016).

Perkenalannya dengan Daeng Aziz dimulai saat sewa menyewa lapak. Anton mengaku menyewa area 20×40 meter untuk berjudi seharga Rp 30 juta per hari. Setelah itu, dia tak berurusan lagi karena hanya memantau perjudian dari jauh. Urusan lapak dikelola anak buahnya.

“Anak buah saya ada belasan yang punya tempat di situ,” terangnya.

Dulu, kata Anton, Daeng Aziz berada di antara kelompok penguasa di Kalijodo. Sama seperti cerita Kombes Krishna Murti saat jadi kapolsek Penjaringan, ada kelompok dari Bugis, Mandar dan Banten. Namun perlahan, Aziz yang berkuasa karena dikenal dekat dengan oknum aparat. Aziz bahkan sanggup mengusir para penjahat, orang-orang yang pernah dipidana, dari Kalijodo. Sisanya, tinggal preman-preman yang mengurusi bisnis dari daerah, namun berani.

Kini, Daeng Azis rencananya dimintai keterangan oleh penyidik Polda Metro Jaya pada Rabu 24 Februari. Mendengar penetapan itu, kuasa hukum Daeng Aziz, Razman Nasution, segera menyusun langkah-langkah untuk membela kliennya, bila perlu mengajukan gugatan praperadilan.

Berita Terkait

Bongkar Buku Harian PSK Kalijodo, “Aku Ingin Baik Dimata-mu Ya Allah”

Foto PSK Tinggalkan Hunian Kalijodo

Ini Gambaran Tempat Prostitusi Lantai 7 Hotel Alexis