Heboh, Terkuak Motif Polisi Mutilasi Anak Karna Masalah Cinta - Infotainment News Online Terkini

Headline News

Heboh, Terkuak Motif Polisi Mutilasi Anak Karna Masalah Cinta

on

Polisi Mutilasi Anak –  Kasus mutilasi yang dilakukan oleh Brigadir Petrus Bakus menyita perhatian publik. Brigadir Petrus sang Polisi Mutilasi Anak sudah ditahan di Polres Melawi, Kalbar. Namun di tahanan, pria yang membunuh dua anaknya dengan mutilasi itu terus meracau. Menurut Kapolda Kalbar Brigjen Arief Sulistyanto sebagaimana dilansir detik, di tahanan Brigadir Petrus sangPolisi Mutilasi Anak mengaku tidak menyesal membunuh anaknya. Dia mengaku menjalankan perintah Tuhan.

Oleh karena itu, polisi yang diduga menderita penyakit mental ini tidak menyesali perbuatannya. Warga sekitar rumahnya tak menyangka bahwa Brigadir Petrus akan berbuat sekejam itu. Motif Polisi Mutilasi dua anak kandung sendiri yaitu, Febian (4) dan Amora (3) ternyata berlatar cinta terlarang. Sebelum Febian dan Amora dimutilasi Brigadir Petrus Bukas, anggota Sat Intelkam Polres Melawi Kalimantan Barat (Kalbar) itu cekcok dengan istrinya, Windri.

Kapolda Kalbar Brigjen Pol Arief Sulistyanto mengatakan, pembunuhan disertai mutilasi ini dipicu adanya persoalan rumah tangga antara Petrus Bakus dengan istrinya, Windri.

Dikatakan Arief, dua minggu sebelumnya Windri mendapati pesan singkat di dalam telepon genggam suaminya dari seorang perempuan. Dari situ timbul kecemburuan Windri, sehingga memicu pertengkaran.

Kemudian, kecemburuan Windri terhadap Petrus yang diduga memiliki wanita idaman lain berbalik pada Windri.

Justru Petrus yang mencurigai sang istri memiliki pria idaman lain. Bahkan Petrus sempat menyuruh orang lain untuk membuntuti Windri kemanapun ia pergi.

“Puncaknya Windri minta diceraikan,” ujar Arief dalam keterangan pers, seperti dilansir Pontianak Post (grup pojoksatu.id), Senin (29/2/2016).

Kemudian seminggu sebelum tragedi mutilasi anak kandungnya itu, Brigadir Petrus meminta seseorang untuk membelikan sebuah parang dengan alasan untuk menebas rumput di halaman belakang.

“Pada saat menebas rumput di belakang rumah itu, menurut Petrus, dia melihat awan hitam yang menyelimuti dirinya. Di dalam awan hitam itu ada puluhan makhluk bertubuh kekar,” lanjut Arief lagi.

Tak hanya itu, Petrus juga pernah menyampaikan akan membunuh istri pada kedua anaknya. Dan apa yang disampaikan Petrus kepada anak-anaknya disampaikan kepada Windri oleh anak-anaknya.

“Mah, kata bapak, mama mau dibunuh papa. Benar kah ma?” kata Arief menirukan ucapan Windri.

Hal itu diungkapkan dua kali oleh sang anak. Yang pertama disampaikan sang anak yang nomor dua (Amora) dan tiga hari sebelumnya disampaikan kembali oleh Febian.

“Windri tidak menggubris omongan kedua anaknya itu. Karena dianggap itu omongan anak kecil,” bebernya.

Selain berencana membunuh Febian dan Amora, Brigadir Petrus juga berniat menghabisi nyawa istrinya, Windri.

“Petrus juga berencana akan membunuh istrinya. Kemudian ia akan bunuh diri dengan cara membakar bersama jasad anak dan istrinya,” ujar Arief.

Dikatakan Arief, Brigadir Petrus yang kini telah ditetapkan sebagai tersangka sudah menyiapkan kayu yang ditumpuk di belakang rumah.

“Rencananya kayu-kayu itu mau digunakan untuk membakar jasad anak dan istrinya, bersama jasadnyan,” tambah Brigadir Arief.

Dalam kasus ini Petrus Bakus dijerat dengan pasal pembunuhan berencana, pasal 480 KUHP sub pasal 338 KUHP jo Pasal Perlindungan Anak UU perlindungan anak dan Kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) dengan ancaman hukuman pidana seumur hidup.

Keadaan Windri Pasca Suaminya Ditangkap

Pihak keluarga besar korban mutilasi masih dirundung duka mendalam pasca kepergian Fabian (4) dan Amora (3).

Wiendry Hairin Yanti, ibu kedua bocah malang tersebut bahkan masih terlihat syok dan terkadang terlihat mendendangkan lagu yang biasa ia nyanyikan untuk anaknya.

Budi, ipar Wiendry mengatakan ibu korban masih dalam kondisi lemah, terkadang masih sering mengingat kedua anaknya.

“Kita yang nangis melihatnya. Kadang masih nyanyikan lagu anak TK. Makanpun masih sulit, kadang kita hanya kasi minum susu,” tuturnya kepada Tribunpontianak, Sabtu (27/2/2016).

Saat ini, Wiendry tinggal di rumah iparnya di Desa Pal, Kecamatan Nanga Pinoh. Pihak keluarga memantau kondisi dia dengan seadanya.

“Ya seadanya. Makanya kita sangat berharap adanya psikiater secara berkelanjutan,” ujarnya.

Korban pembunuhan dan mutilasi anggota polisi Brigadir Petrus Bakus di Kabupaten Melawi, Kalimantan Barat, dikebumikan Jumat malam, 26 Februari 2016, pukul 23.00 WIB, di pemakaman Jalan Tengah, Gang Tapang, Desa Pal, Kecamatan Nanga Pinoh, Kabupaten Melawi.

Mereka adalah Fabian (5) dan Amora (3), dua anak kandung Petrus dan istrinya, Windri. Dua bersaudara ini di kubur dalam satu liang lahad.

“Jam 11 malam dikuburkannya. Kakak beradik. Banyak anggota polisi datang ke sini. Ada juga sejumlah pejabat Pemkab Melawi,” ujar Sukardi, warga yang tinggal di sekitar pemakaman, Sabtu 27 Februari 2016.

Berita Terkait

Terungkap 16 Fakta Seram Si Polisi Mutilasi Anak Kandung

Polisi Mutilasi Anak Ngaku Ingin Tobat Ke Ustaz Ali Murtadho

Terkuak, Polisi Mutilasi Anak Lakukan Ini Sebelum Membunuh

Recommended for you