Kronologi Pembunuhan Dwiki Sopian Yang Alami 107 Tusukan

144

Dwiki Sopian – Pembunuhan sadis dialami oleh Dwiki Sopian (16), Selasa (8/3/2016) sore. Dwiki Sopian tewas setelah dibantai oleh para pelaku yang kurang lebih berjumlah tujuh orang. Ada 70 tusukan di punggung, 26 tusukan di dada, delapan tusukan di tangan kanan, tiga luka tusukan di tangan kiri.

Kronologi Pembunuhan Dwiki Sopian

Dwiki Sopian (16) bersekolah di SMKN 2 Bandar Lampung mengambil jurusan TSP kelas XI (sebelas). Jasad Dwiki Sopian pertama tidak dikenali saat berada di semak-semak pinggir Jalan Raden Imba Kusuma, Telukbetung Selatan, Lampung, Senin (7/3/2016) sore. Tubuhnya telungkup.

Anggi Saputra (18) dan Deri Saputra (17) terkesiap melihat pria yang sudah tak bergerak tersebut. Keduanya belum lama merenggangkan otot kakinya sore itu sejak dari rumah mereka di Jalan H Agus Salim, Kelurahan Kaliawi, Tanjungkarang Pusat.

Sebagai calon polisi, Deri yang lebih dulu maju dan mengecek pria tersebut. “Kami kaget ternyata sudah mati dan ada luka-luka di tubuhnya,” kata dia.

Mayat lelaki tanpa identitas ditemukan di pinggir kebun Jalan Raden Imba Kusuma, Kelurahan Sumur Putri, Telukbetung Selatan, Senin (7/3/2016) sore

Setelah memastikan pria tadi sudah tak bergerak, Anggi memilih turun ke bawah memanggil warga sekitar. Kakak beradik ini ingin warga menyaksikan apa yang mereka lihat benar-benar mayat. Tanpa pikir panjang warga lalu menghubungi polisi.

Anggota Polsek Telukbetung Selatan dan Polresta Bandar Lampung datang ke lokasi penemuan mayat. Usai digelar olah tempat kejadian perkara, mayat pria tersebut diautopsi di Rumah Sakit Umum Abdul Moeloek.

Petugas yang melakukan olah tempat kejadian perkara tidak menemukan benda-benda mencurigakan. “Kami hanya menemukan mayat korban tanpa identitas,” ujar Kapolsek Telukbetung Selatan, Kompol Sarpani.

Dari semua yang paling Sarpani ingat adalah tanda-tanda kekerasan di tubuh korban. Satu di antaranya luka tusuk di dada korban.

Terlalu dini jika polisi menyimpulkan luka tersebut hasil kejahatan. Sarpani lebih menyerahkan pihak medis untuk mengautopsi korban sehingga misteri luka tusuk di dada terungkap.

“Kasusnya saat ini masih penyelidikan. Kami belum bisa menyimpulkan apakah ini tindak kriminal atau bukan,” kata alumnus Akademi Kepolisian 2003.

Anggi dan Deri sekian orang yang dimintai keterangan polisi sebagai saksi atas penemuan mayat pria tanpa identitas tersebut.

Setelah autopsi kelar, polisi merilis ciri-ciri korban berbadan tegap, tinggi kurang lebih 165 sentimeter, memakai kaus hitam, memakai celana jin, celana dalam biru, dan memakai jam di tangan kiri.

Mayat yang ditemukan di pinggir semak di Jalan Raden Imba Kusuma, Kelurahan Sumur Putri, Kecamatan Telukbetung Selatan, Senin (7/3/2016), bernama Dwiki Sopian (16).

Pembunhan Dwiki Sopian Karna Sakit Hati

Kapolresta Bandar Lampung Komisaris Besar Hari Nugroho mengatakan, “peristiwa ini bermula dari perselisihan antara Dwiki dengan tersangka berinisial K.”

Awalnya Perselisihan itu disebabkan karena adanya salah omongan. dan akhirnya Perselisihan keduanya pun bisa didamaikan oleh teman keduanya. Setelah perdamaian, kata Hari, terjadilah percekcokan antara kekasih Dwiki dengan mantan pacar Dwiki.

Hari mengatakan, mantan pacar Dwiki sakit hati karena ada omongan yang tidak baik dari pacar Dwiki. Mantan pacar Dwiki ini, ujar Hari, merupakan teman sekolah K. Mantan pacar Dwiki curhat ke K mengenai perkataan pacar Dwiki yang dianggap menyakitkan.

K lalu menelepon Dwiki. “Di telepon itu mereka ribut lalu saling tantang,” ujar Hari, Selasa (8/3/2016). Kemudian barulah Mereka bertemu di Jalan ZA Pagar Alam depan karaoke Star Rock. Terjadilah perkelahian di tempat tersebut. Dwiki dibantai oleh K dkk di depan rumah K di belakang karaoke Star Rock. Mayat Dwiki lalu dibuang di pinggir kebun Jalan Raden Imba Kesuma, Kelurahan Sumur Putri, Telukbetung Selatan.

Polisi sudah menangkap tujuh orang yang terlibat pembunuhan Dwiki. Dua tersangka lainnya masih buron termasuk K.

Tribun Lampung