Lubang Batubara Pencabut 24 Nyawa

107

Sapujagat.com, Lubang batubara pencabut 24 nyawa

Kubangan air bekas tambang batubara di Kalimantan Timur, kembali memakan korban jiwa. Korban terakhir bocah laki-laki berusia 5 tahun, bernama Muhammad Arham. Ia menjadi korban ke 24 akibat lubang bekas kegiatan tambang batubara di Samarinda, Kalimantan Timur, itu. Sekaligus menjadi korban 14 anak-anak akibat lubang bekas tambang batubara tersebut.

Muhammad Arham tewas pada Jumat (6/5), setelah sempat mendapat perawatan selama 28 hari di RS IA Moeis, Samarinda. Ayah kandung Arham, Jamaludin (39) menceritakan, sebelum meninggal, anak bungsunya itu sempat berada dalam keadaan kritis. Meski tangan kirinya sudah diamputasi termasuk jari-jari di kakinya, namun belakangan kondisinya selalu menurun.

“Pendarahan di lututnya, darah selalu keluar, telah dibantu perawat. Kecurigaan pembuluh darah di kakinya pecah. Tensi darahnya jadi tak stabil,” kata Jamaludin dalam perbincangan bersama merdeka.com, Jumat (6/5) sore.

Arham, anak bungsu dari 3 bersaudara itu, akhirnya meregang nyawa sekitar pukul 06.00 WITA pagi tadi, setelah menjalani perawatan selama 28 hari. Proses pemakaman Arham, dimulai usai Salat Jumat tadi.

“Sebelum salat Ashar ini, anak aku dimakamkan. Semua aku ikhlaskan, berjalan apa adanya. Mudah-mudahan ini yg terakhir kalinya. Sejauh ini, tak ada seorang pejabat pun yg tiba menjenguk anak saya. Tidak apa-apa,” kata dia.

Diketahui, Arham, dirawat di RS IA Moeis di Jalan AM Rifaddin. Dia harus kehilangan lengan kiri dan sejumlah jari kakinya usai diamputasi, pascaterjatuh di kubangan batu bara di kawasan Palaran, Samarinda, Kalimantan Timur, 9 April 2016 lalu.

“Cukuplah anak aku menderita. Kalau pun ada benar-benar pihak membantu, aku ucapkan syukur Alhamdulillah,” kata Jamaludin, yg kesehariannya bekerja sebagai pengrajin batako itu.

Pemprov Kaltim dinilai gagal melindungi warganya karena tidak dapat melakukan antisipasi atau penanggulangan atas lokasi bekas kegiatan tambang itu. Sesuai UU Undang-undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang pemerintahan daerah, kawasan pertambangan yaitu tanggung jawab pemerintah tingkat provinsi. Sebelumnya, kewenangan tersebut berada di tangan bupati dan wali kota.

“Kami mendesak Presiden dan Mendagri, memberi sanksi kepada Gubernur, atas kegagalannya, karena telah 23 nyawa melayang di lubang bekas tambang batubara,” kata anggota Divisi Hukum dan Advokasi Jaringan Advokasi Tambang (Jatam) Kalimantan Timur, Mustakim, kepada merdeka.com, Jumat (6/5).

Dalam penelusuran Jatam, danau itu sebelumnya bekas kegiatan tambang batubara yg dikerjakan oleh CV PBS. Lubang bekas tambang yg menjadi danau itu sendiri, berjarak cuma 57 meter dari pemukiman warga. CV PBS mengantongi SK kegiatan tambang bernomor 545/459/HK-KS/VIII/2010. Dalam dokumen UKL-UPL CV Panca Bara Sejahtera ini memiliki luas konsesi 123,8 Hektare.

“Dugaan pelanggaran tak ada pemasangan rambu peringatan dan pos keamanan sebagai upaya pembatasan akses warga. Perusahaan diduga melanggar Kepmentamben nomor 55/K/26/MPE/1995, dimana tak ada pengawasan yg menyebabkan orang yang lain masuk ke kawasan dalam tambang,” ujarnya.

Lubang bekas tambang ini bahkan tidak ada tanda bahaya atau dilarang berenang yg dipasang oleh pemerintah setempat. Hal ini menjadi salah sesuatu faktor banyaknya korban tewas akibat tenggelam pasca berenang. Sebab, lubang bekas tambang ini memang kelihatan seperti danau yg mampu dibuat bagi berenang.

“Kedua, dugaan pelanggaran reklamasi dan pasca tambang, yg melanggar pasal 19-21 PP No 78/ 2010, bahwa paling lambat 30 hari kalender setelah tak ada kegiatan tambang pada lahan terganggu wajib direklamasi. Sementara di lapangan lubang dibiarkan menganga sejak 2013,” tukasnya.

“Ketiga, perusahaan diduga melanggar Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 4 Tahun 2012. Sebab, berdasarkan temuan tim investigasi Jatam Kaltim jarak lubang Bekas cuma 57 Meter dari pemukiman dan jalan raya.

Penilaian Jatam Kaltim itu, ditanggapi dingin Gubernur Kaltim Awang Faroek Ishak. Dalam rapat bersama wartawan di kantornya, Rabu (4/5) lalu, Awang cuma menerangkan, bahwa dia memerintahkan jajarannya, mengusut benar tidaknya lubang itu bekas tambang batubara.

“Saya tak mampu berkomentar banyak dulu. Saya perintahkan Distamben, buat menelusurinya, menyelidikinya,” kata Awang.

Sementara, Dimanisator Jaringan Advokasi Tambang (Jatam) Kaltim, Merah Johansyah menerangkan, meninggalnya Arham, menjadi korban tewas ke-24 akibat lubang tambang yg menganga, tanpa reklamasi.

“Kami mencatat, dalam 5 bulan ini, telah ada 6 korban meninggal akibat lubang tambang. Terakhir, adalah adik Arham. Hampir setiap bulan bencana, kemana negara? Dalam hal ini, Gubernur Kaltim dan wali kota Samarinda,” kata Merah.

“Undang-undang Nomor 23 tahun 2014 memberikan kewenangan penuh kepada Gubernur, buat mengawasi kegiatan pertambangan. Punya kekuatan buat memberikan sanksi, misal yg tak mereklamasi lubang tambangnya. Tapi apa faktanya?” pungkas Merah.

Kubangan batu bara itu, belakangan diketahui punya PT IBP, pemegang izin perjanjian karya pengusahaan pertambangan batu bara (PKP2B) yg dikeluarkan pemerintah pusat bernomor izin usaha pertambangan (IUP) SK 341.K/30.00/2008. Ironisnya, di areal PT IBP itu kini berdiri rumah proyek perumahan bersubsidi. Padahal seharusnya, perusahaan menjalankan kewajiban buat mereklamasi.Baca juga:
Bocah 5 tahun ikut tewas, korban bekas tambang di Samarinda jadi 24
Tak ada tanda bahaya, lokasi bekas tambang ini renggut 23 nyawa
Sumber: http://www.merdeka.com
Info Lubang batubara pencabut 24 nyawa.