Madura, Akulah Darahmu…

114

Sapujagat.com, Madura, Akulah Darahmu…

PULAU Madura tergolong kecil dengan panjang cuma 160 kilometer dan lebar 40 kilometer. Dengan demikian, Madura memiliki banyak pantai dengan keunikannya masing-masing. Bahkan, seandainya ingin berkunjung ke tiga pantai berbeda dalam sehari pun, bakal terkabul.

Menikmati pantai-pantai di Madura semakin istimewa saat gerhana matahari sebagian mengintip lautnya pada Maret lalu.

Selama tujuh hari di Madura, tim Selisik Batik Madura sampai dapat berkunjung ke tujuh pantai berbeda. Kunjungan ke pantai biasanya diagendakan pada pagi hari sebelum matahari terbit.

Menikmati matahari terbit sekaligus memandang kesibukan nelayan atau pelaut di pagi hari menjadi pemandangan yg menenteramkan.

Terkhusus saat gerhana matahari terjadi pada 9 Maret lalu, kalian siap menuju Pelabuhan Kamal di Kecamatan Kamal, Kabupaten Bangkalan, sembari berharap langit cerah.

Pada momentum gerhana matahari total yg cuma dapat disaksikan di Indonesia itu, Pulau Madura kebagian fenomena gerhana matahari sebagian pada pagi hari.

Berbekal kamera yg telah dilindungi dengan filter natural density—agar tak terbakar cahaya matahari—rekan fotografer dan videografer bersemangat mengabadikan kejadian langka itu.

KOMPAS/BAHANA PATRIA GUPTA Pelabuhan Dongkek di Pulau Madura.

Ternyata, kita tidak sendiri. Sebelum Matahari terbit, puluhan orang telah berdiri mematung di tepian Pelabuhan Kamal. Tampak pula sesuatu keluarga dengan kamera lensa panjang bersiap mengabadikan gerhana.

Hangatnya matahari pagi yg berwarna keemasan langsung kita rasakan saat Matahari akan terbit. Perlahan, suasana berubah menjadi seperti sore hari saat sinar matahari terhalang bulatan Bulan.

Melongok dari lensa kamera berfilter atau dengan kacamata gerhana, kalian menyaksikan Matahari tampak ”kerowak”. Sedikit demi sedikit bulatannya berubah serupa bulan sabit. Tak sampai tertutup sempurna, perlahan Matahari kembali ke bentuk normalnya.

Udara pagi yg dingin dahulu hangat dan suasana pantai yg tidak begitu ramai membuat pikiran terasa tenang. Duduk-duduk di tepian pelabuhan, dua kapal berbagai ukuran, akan dari perahu tradisional hingga kapal tanker, tampak berlalu lalang.

Beberapa kapal masih menyalakan lampu kelap-kelip. Dari kejauhan, Jembatan Suramadu yg menghubungkan Madura dengan Pulau Jawa tampak samar muncul di antara kabut.

Sebelum Jembatan Suramadu beroperasi pada 2009, Pelabuhan Kamal adalah gerbang penting penyeberangan yg menghubungkan Madura dan Jawa.

Jarak tempuh dari Pelabuhan Kamal menuju Pelabuhan Ujung Kota Surabaya sekitar 30 menit dengan feri melintasi Selat Madura. Sejak beroperasinya Jembatan Suramadu, dari dua kapal besar, cuma tinggal belasan kapal berukuran kecil.

KOMPAS/BAHANA PATRIA GUPTA Warga seusai mencari udang melewati hamparan pasir di Pantai Lombang.

Libur melaut

Dari Pulau Jawa, Madura cuma dipisahkan oleh selat dangkal 4 kilometer. Ditinjau dari sudut geologi, pulau ini yaitu kelanjutan sistem pegunungan kapur utara sehingga tulang punggungnya adalah perbukitan berkapur. Bahan induk tanah adalah batu kapur, batu pasir, dan batu endapan yg di sela-sela oleh endapan pasir dan endapan liat.

De Jonge 1989 seperti dikutip dalam buku Manusia Madura karya Prof Mien Ahmad Rifai menyebut sungai panjang dan besar tak ada di Madura. Sumber air buat pertanian yaitu sumber langka.

Sebagai suku bangsa yg terkenal sanggup hidup abbantal omba asapo angen (berbantal ombak berselimut angin), menjadi nelayan yaitu mata pencarian hidup utama orang Madura yg hidup di daerah pesisir.

Orang Madura telah menjadi pelaut sejak zaman kuno. Drs Abdurachman dalam buku Sedjarah Madura menyebutkan, legenda tentang penduduk pertama Madura berasal dari laut yg diberi nama Raden Sagoro atau Pangeran Laut, cucu Raja Mendangkamulan.

Agama Islam di Madura disebarkan oleh Sunan Giri. Akan tetapi, sebelumnya telah banyak pedagang Islam, seperti dari Gujarat, yg singgah di pelabuhan-pelabuhan di Pulau Madura.

Dari Pelabuhan Kamal di pagi hari, pada sore harinya kalian berpindah merekam Matahari terbenam di Pantai Banyusangkah, Tanjungbumi. Pantai Banyusangkah menawarkan pemandangan berbeda sebagai tempat pendaratan ikan terbesar di Kabupaten Bangkalan.

Suasana sunyi di pantai membuat kita bertanya-tanya. Seorang nelayan dengan ringan menjawab, ”Sekarang sedang holiday karena Matahari sedang sakit.”

KOMPAS/BAHANA PATRIA GUPTA Dermaga Pelabuhan Kamal, Bangkalan, Rabu (9/3/2016).

Sebagian nelayan di Banyusangkah memang mampu berbahasa Inggris karena lama bekerja sebagai anak buah kapal di kapal pesiar yg berlayar ke negara-negara asing, seperti Amerika dan Eropa.

Meski tidak ada nelayan yg melaut, dua sibuk memperbaiki jala, menjemur ikan, dan sebagian lainnya mengawetkan ikan dengan mencelupkannya pada sekarung garam. Memandang Matahari tenggelam di Banyusangkah semakin mengasyikkan karena perahu-perahu tradisionalnya berhias dengan bendera aneka negara.

Laut dan puisi

Tak jauh dari Pantai Banyusangkah, dengan cuma lima menit perjalanan naik mobil, kita telah datang di Pelabuhan Telaga Biru atau juga dikenal sebagai Pelabuhan Sarimuna di Tanjungbumi.

Berbeda dengan Banyusangkah yg dihuni nelayan, pantai ini menjadi pusat perdagangan sapi antarpulau dengan pelaut ulung yg berlayar hingga berbulan-bulan.

Di Pelabuhan Telaga Biru ini juga terdapat kapal peninggalan Ulama Besar Madura Syaichona Moh Cholil. Perahu yg dibuat pada abad ke-18 itu pernah digunakan bagi menyebarkan agama Islam ke sejumlah daerah di Nusantara.

Saat ini, perahu disimpan di sebuah ruangan di tepi pantai dan bagian dalamnya kadang kali dipakai buat sembahyang warga sekitar.

Pantai-pantai yang lain yg tidak kalah unik dan tentu saja indah adalah Pantai Lombang di Sumenep dengan hamparan pasir putihnya.

KOMPAS/BAHANA PATRIA GUPTA Warga memandikan sapi karapan di pantai di Kecamatan Tanjungbumi, Bangkalan, Rabu (9/3/2016).

Tak jauh dari Pantai Lombang, kita menikmati sore di Pelabuhan Dungkek yg menjadi tempat pendaratan pertama pendatang dari Tiongkok. Sekadar berjalan-jalan di pasirnya sembari menghirup segar udara atau mencecap kelapa mudanya membuat hati tertaut pada Madura.

Apalagi, di tengah debur ombak itu, kalian mendengarkan budayawan Madura, KH Zawawi Imron, membacakan puisi tentang Madura.

”Bila musim labuh hujan tidak turun, kubasahi kau dengan denyutku. Bila dadamu kerontang, kubajak kau dengan tanduk logamku. Di atas bukit garam, kunyalakan otakku. Lantaran saya adalah sapi karapan, yg menetas dari senyum dan airmatamu. Aku lari mengejar ombak saya terbang memeluk bulan dan memetik bintang-gemintang. Di ranting-ranting roh nenek moyangku, di ubun langit kuucapkan sumpah – Madura, akulah darahmu.” (MAWAR KUSUMA & ARYO WISANGGENI G)
Sumber: http://travel.kompas.com
Madura, Akulah Darahmu….di Sapujagat JagatWisata