Tak Lama Lagi Banyuwangi Miliki Kampung Wisata Batik

126

Sapujagat.com, Tak Lama Lagi Banyuwangi Miliki Kampung Wisata Batik

BANYUWANGI, KOMPAS.com – Kesuksesan Kampoeng Batik Laweyan hingga Kampoeng Batik Kauman di Kota Solo menginspirasi Universitas Ciputra (UC) Surabaya bagi mengembangkan kampung wisata batik di Banyuwangi.

Studi kelayakan mulai dikerjakan akan tahun ini. Tahapannya, dalam lima bulan ke depan, UC Surabaya mulai membuat konsep kampung wisata batik di Banyuwangi, setelah itu, persiapan lahan selama tujuh bulan.

Inilah yg oleh Menteri Pariwisata Arief Yahya tidak jarang disebut sebagai Pentahelix, yakni gabungan lima unsur yg harus bersatu dan bergerak bersama-sama, yakni: akademisi, bisnis, komunitas, pemerintah, dan media.

“Ketika lima unsur ini bersatu dan  memiliki visi pariwisata, maka aku jamin sektor ini mulai semakin kuat mengakar dan dapat diandalkan,” ujar Arief Yahya sebagaimana dikutip Kompas Travel, dalam siaran pers Biro Hukum dan Komunikasi Publik Kemenpar, Senin (13/6/2016).

Ide dan inisiatif Universitas Ciputra membuat kampung batik di Banyuwangi itu contoh konkret. “Pemerintah hanyalah regulator, tak boleh merangkap menjadi operator. Biarkan bisnis yg menjalankan. Dan komunitas mampu mendapatkan manfaat yg konkret,” ujar Arief Yahya.

Dosen Universitas Ciputra, Juliuska Sahertian dan Kepala Laboratorium Fashion Department, Fabio Ricardo Toreh mengaku sudah bertemu dengan Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas. Ide ini segera mendapat respons positif.

“Ini murni inisiatif Universitas Ciputra. Batik kan warisan leluhur yg telah mendunia. Itu fakta. Ada UNESCO yg telah mengakuinya sejak 2 Oktober 2009. Di sisi lain, pariwisata Banyuwangi naik sangat pesat. Pendapatan per kapita Banyuwangi naik dari Rp 21 juta pada 2010 menjadi Rp 39 juta pada tahun 2015 karena pariwisata. Kalau beberapa kekuatan ini digabungkan menjadi sebuah kampung wisata batik, hasilnya dapat dahsyat,” kata Juliuska Sahertian, Senin (13/6/2016).

KOMPAS.COM/IRA RACHMAWATI Model menampilkan parade kostum dengan tema ‘The Usingnese Royal Wedding’ pada Banyuwangi Ethno Carnival 2015 di Taman Blambangan, Banyuwangi, Jawa Timur, Sabtu (17/10/2015). Karnaval memadukan modernitas dengan seni tradisional ini dibagi tiga sub tema, merupakan Sembur Kemuning, Mupus Braen Blambangan, dan Sekar Kedaton Wetan.

Kampung wisata batik ini nantinya mulai menjadi pusat pembelajaran, pengembangan, dan pemasaran batik. “Kampung wisata batik di Banyuwangi mulai menjadi etalase segala macam batik ramah lingkungan yg ada di Indonesia. Lengkap dengan ceritanya,” paparnya.   

Juliuska memaparkan, Banyuwangi dipilih lantaran mempunyai perkembangan batik yg signifikan. Industri kreatif berbasis fashion di Banyuwangi dinilai sangat pas bagi dipadukan dengan pengembangan pariwisata.

Apalagi Banyuwangi juga mempunyai infrastruktur transportasi yg lengkap. Dari darat, laut, maupun udara, segala ada di sana. Belum lagi, keuntungan letak geografis yg dekat dengan Bali sebagai jantung penting pariwisata Indonesia.

Kawasan kampung wisata batik Banyuwangi itu, lanjut Juliuska, nantinya mengambil lansekap salah sesuatu motif batik setempat. Di dalamnya mulai dilengkapi 13 rumah tradisional dari berbagai provinsi di Indonesia yg yaitu penghasil batik.

Selain itu, ada fasilitas penunjang seperti cottages, food and beverage stalls, taman bunga, kolam ikan, wahana  permainan alam, jalur berkuda, dan infrastruktur penunjang pariwisata lainnya.

“Kampung wisata batik ini bagian dari Program Wisata Inti Rakyat (PIR) yg kita desain buat menghidupkan pariwisata pedesaan. Tahun pertama mulai kita bagi studi kelayakan. Selama lima bulan ke depan kita cari gambaran buat kampung wisata batik, dulu persiapan lahan selama tujuh bulan,” katanya.
 
Tahapan berikutnya, sambung Juliuska, perencanaan bisnis pembangunan kampung wisata batik. Ciputra mulai menurunkan tim, baik yg mengajarkan pembuatan batik ramah lingkungan maupun mengedukasi bagaimana mendesain skema fashion batiknya ke perajin lokal. “Setelah siap, dahulu dimulai pembangunan kampung wisata tersebut,” katanya.

KOMPAS.COM/IRA RACHMAWATI Berbagai jenis macam fashion disediakan outlet Osing Deles yg berada di Jalan Agus Salim 12A Banyuwangi, Jawa Timur.

Bupati Banyuwangi Azwar Anas segera merespons positif gagasan tadi. Hadirnya kampung wisata batik Banyuwangi, dinilai dapat mendorong tumbuhnya industri batik dan pariwisata di kabupaten berjuluk “Sunrise of Java” itu.

“Dengan dukungan Pemprov Jatim, tahun ini akan dirintis Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) jurusan batik di Banyuwangi. Lalu Oktober mendatang, Kementerian Perindustrian mengumpulkan pewarna alam se-Indonesia buat ditampilkan di Banyuwangi. Kalau ditambah kampung wisata batik, kreativitas pembatik lokal, akan dari pengembangan motif hingga desain fashion, pasti mulai tumbuh. Sekarang para perajin batik giat berproduksi karena laris seiring banyaknya wisatawan,” kata Anas.

Pengembangan industri batik di Banyuwangi, menurut Anas, mulai tetap menempatkan UMKM lokal sebagai pilar utama. “Jadi siapa pun yg ingin mengembangkan batik Banyuwangi harus melalui pendekatan pembukaan lapangan pekerjaan dan transfer knowledge ke UMKM lokal,” tambah Anas. (*)
Sumber: http://travel.kompas.com
Tak Lama Lagi Banyuwangi Miliki Kampung Wisata Batik.di Sapujagat JagatWisata