Ini 10 Fakta Yang Harus Kamu Tahu Dari Pembuat Vaksin Palsu Balita

135

Vaksin Palsu – Bareskrim Polri berhasil menyita ratusan vaksin palsu jenis hepatitis B, pediacel, campak kering, polio, dan anti-snake. Diketahui, Penyidik Direktorat Tindak Pidana Ekonomi Khusus Bareskrim Polri menangkap 10 anggota sindikat penyebaran vaksin palsu balita.

Dari sembilan pelaku, terdapat pasutri atau pasangan suami istri, yakni Hidayat Taufiqurahman dan Rita Agustina.

Sejoli ini diduga sebagai produsen dan otak sindikat pembuatan vaksin palsu. Keduanya ditangkap di kediaman mewahnya, Perumahan Kemang Regency, Jalan Kumala 2, Bekasi Timur, Kota Bekasi pada Rabu (22/6/2016) pukul 21.00 WIB.

Berikut 10 fakta yang ada di pusaran peredaran vaksin palsu balita yang berhasil dihimpun pojoksatu.id:

1. Pelaku Cukup Profesional

Direktur Tindak Pidana Ekonomi Khusus Bareskrim Polri Brigjen Agung Setya mengatakan, pelaku pemalsuan sangat profesional dalam menjalankan aksi mereka. Akibatnya, konsumen tidak bisa membedakan vaksin palsu itu dengan yang asli secara kasat mata. Menurut Agung, vaksin palsu itu berbahan baku cairan infus dan vaksin tetanus. Pelaku lantas memasukkannya ke dalam injeksi.

“Untuk menyempurnakannya, pelaku memakai alat pres supaya bisa keluar seperti vaksin asli. Dikemas, di-packing, kemudian didistribusikan,” ujar Agung di Bareskrim Polri, Jakarta, Kamis (23/6).

2. Vaksin palsu masuk rumah sakit

Setelah melakukan pennagkapan terhadap para tersangka. Agung menduga sindikat itu punya jaringan di beberapa rumah sakit. Namun, katanya, penyidikan Bareskrim masih berfokus ke sindikat itu.

“Jadi penyidikan ke atas. Siapa produsen, sales, kurir, dan semua hal yang berkaitan dengan peredaran vaksin palsu. Kami takutnya yang di atas ini menghilangkan barang bukti,” katanya.

3. Vaksin palsu sudah beredar sejak 2003

Sedikitnya 10 orang sindikat pengedar vaksin palsu untuk balita diamankan Bareskrim Polri. Dari hasil pemeriksaan, diketahui bahwa peredaran vaksin palsu untuk balita tersebut sejak tahun 2003.

4. Salesnya pemain lama

Direktur Tindak Pidana Ekonomi Khusus Bareskrim Polri Brigjen Agung Setya mengatakan 10 orang tersangka memiliki peran berbeda. Antara lain, T dan S berperan sebagai kurir. Kemudian P, HS, H, J, dan R sebagai produsen vaksin palsu. Dan tiga tersangka lainnya yang baru diamankan hari ini, bertugas menjadi sales dan pembuat kemasan.

“Salesnya merupakan pemain lama. Dia punya punya jaringan untuk menjual vaksin ke rumah sakit dan apotek. Hari ini baru kami tangkap tiga orang itu di Subang, Jawa Barat,” jelas Agung.

5. Sudah beredar luas di Indonesia

Vaksin palsu balita yang diungkap Bareskrim Polri sudah beredar luas di Indonesia.

“Sudah menyebar ke seluruh Indonesia. Namun yang baru kami temukan vaksin palsunya ada di Jawa Barat, Banten, dan DKI Jakarta,” ujar Direktur Tindak Pidana Ekonomi Khusus Bareskrim Polri Brigjen Agung Setya di Bareskrim Polri, Jakarta, Kamis (23/6).

Baca juga:

Kumpulan Foto Tersangka Vaksin Palsu di Bekasi Punya Rumah Mewah dan Mobil Pajero

Penting! Inilah Tanda Balita Yang Terkena Vaksin Palsu

6. Pembuatan vaksin palsu di rumah kontrakan

Polisi membongkar tempat pembuatan vaksin palsu di rumah kontrakan Dewi House di Jalan Pahlawan Nomor 7, Tambun, Bekasi, Kamis (16/6) silam.

“Tempat pembuatan vaksin ini gudang atau rumah yang dari sisi higienisnya tidak memenuhi standar. Ada bahan dasar, pakai injeksi dimasukkan ke dalam botol. Bahan dasarnya adalah air infus dan vaksin tetanus,” beber Agung.

7. Kemasan vaksin palsu kasar

Menurut produsen resmi vaksi Bio Farma, untuk mengetahui produk asli dan palsu, memang harus melalui uji laboratorium.

Meski demikian, kata Kepala Divisi Penjualan Dalam Negeri Bio Farma, Drajat Alamsyah Menurut, secara kasat mata produk palsu dapat dibedakan dari bentuk kemasan yang lebih kasar, nomor batch yang tidak bisa terbaca jelas dan, rubber stoper (tutup vial) ada perbedaan warna dari produk asli.

“Untuk itu kami mengimbau kepada masyarakat agar berhati-hati dan waspada apabila ada pihak-pihak yang menawarkan vaksin yang lebih murah dari harga distributor, atau tanda-tanda fisik yang mencurigakan,” kata Drajat.

8. Vaksin palsu berbahan dasar cairan infus

Menurut Direktur Tindak Pidana Ekonomi Khusus Bareskrim Polri Brigjen Agung Setya, vaksin palsu itu berbahan baku cairan infus dan vaksin tetanus. Pelaku lantas memasukkannya ke dalam injeksi.

“Untuk menyempurnakannya, pelaku memakai alat pres supaya bisa keluar seperti vaksin asli. Dikemas, di-packing, kemudian didistribusikan,” ujar Agung di Bareskrim Polri, Jakarta, Kamis (23/6).

9. Penjualan vaksin palsu tidak ditempat penyalur resmi

Menurut Plt Kepala BPOM Tengku Bahdar Johan Hamid, cara untuk terhindar dari kesalahan penggunaan vaksin palsu balita, yakni memastikan bahwa vaksin yang digunakan diprodusi oleh perusahaan resmi.

“Jadi harus diingat jangan beli vaksin di tempat yang tidak resmi atau freelance. Dia datang satu kotak harganya murah.”

10. Gejala dari vaksin palsu berupa infeksi

Menurut Vaksinolog dr. Dirga Sakti Rambe, M.Sc-VPCD, risiko terberat akibat vaksin palsu balita adalah anak terkena infeksi.

Ia menjelaskan, adapun gejala infeksi tersebut antara lain demam tinggi disertai laju nadi cepat, sesak napas, dan anak sulit makan. Jika anak hanya demam saja setelah divaksin, orangtua tak perlu khawatir, karena beberapa vaksin memang bisa membuat anak demam.

Atas terungkapnya kasus ini, Sekretaris Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bekasi, Tetty Manurung menghimbau kepada orangtua yang sudah melakukan vaksinasi kepada bayi, apabila masih ragu dapat melakukan vaksinasi ulang kepada bayinya dan pilihlah tempat yang terpercaya.