Petisi “Tolak Full Day School” Ini Kata Mendikbud

101

Full Day School – Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Muhadjir Effendy memberikan pernyataan sekolah sehari penuh atau full day school. Hal ini berdampak pro dan kontra, bahkan memunculkan petisi yang menolak sistem tersebut.

Mendikbud mengatakan, gagasan “full day school” untuk pendidikan dasar (SD dan SMP), baik negeri maupun swasta muncul agar anak tidak sendiri ketika orangtua mereka masih bekerja.

“Dengan sistem full day school ini secara perlahan anak didik akan terbangun karakternya dan tidak menjadi liar di luar sekolah ketika orangtua mereka masih belum pulang dari kerja,” ujar Mendikbud di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Minggu (07/08/2016) sebagaimana dilansir Republika.

Menurut dia, kalau anak-anak tetap berada di sekolah, mereka bisa menyelesaikan tugas-tugas sekolah sampai dijemput orangtuanya seusai jam kerja.

Selain itu, anak-anak bisa pulang bersama-sama orangtua mereka sehingga ketika berada di rumah mereka tetap dalam pengawasan, khususnya oleh orangtua.

Mendikbud mengaku bahwa gagasan ini sudah disetujui Wakil Presien Jusuf Kalla.

Sayangnya gagasan tersebut menuai pro dan kontra. Seorang orangtua siswa, Deddy Mahyarto Kresnoputro bahkan menggagas sebuah petisi “Tolak Pendidikan “Full Day”/Sehari Penuh di Indonesia” di http://www.change.org.

Petisi ini ia tujukan kepada Presiden RI, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, serta para orangtua siswa.

“Belum selesai kita membenahi masalah kurikulum yang kerap kali diacak2, sekarang muncul wacana untuk Anak Sekolah Sehari Penuh, dengan alasan pendidikan dasar saat ini tidak siap menghadapi perubahan jaman yang begitu pesat. Semoga bapak2 dan ibu2 tahu bahwa tren sekolah di negara2 maju saat ini adalah less school time, no homework, more about character building,” demikian Deddy menuliskan latar belakang petisi yang digagasnya.

Menurut Kompas, hingga pukul 13.25 WIB, Selasa (09/08/201), petisi ini telah ditandatangani 14.698 orang.

Deddy berharap, melalui petisi ini, para pembuat kebijakan mempertimbangkan wacana yang dinilainya justru membahayakan masa depan anak.

“Semoga dengan mengisi petisi ini kita bisa membuat para pembuat kebijakan sadar bahwa pilihan ini justru berbahaya, dan mendorong kita para orang tua dan praktisi pendidikan untuk dapat mencari solusi terbaik bagi anak2 kita di jangka pendek dan bagi kemajuan Bangsa Indonesia di jangka panjang,” kata Deddy.

Mendikbud Sampaikan Terima Kasih

Menanggapi petisi tersebut. Mendikbud Muhadjir Effendy mengatakan bahwa dirinya senang karna banyak yang merespon mengenai permasalahan ini.

“Saya justru kalau orang diberitahu langsung terima malah curiga. Saya juga senang kalau ide itu diuji dulu. Malah saya tidak punya beban. Mau petisi 10 ribu juga tidak apa-apa. Senang saya (karena banyak yang respon ide ini),” ucap Muhadjir Effendy di Restoran Batik Kuring, Jalan Widya Chandra V, LOT 21, SCBD, Jakarta, Selasa (9/8/2016).

“Saya terima kasih kepada masyarakat. Bila ini bisa dilanjutkan, mana yang bisa dilanjutkan atau tidak. Ini saya lakukan demi kepentingan bangsa ini. Ini sebagai perintah dari Presiden, ini bukan mengada-ada,” lanjutnya.