Inilah Isi Buku “Jokowi Undercover” Yang Bikin Penulisnya Ditahan

119

Jokowi Undercover – Bambang Tri Mulyono, penulis buku Jokowi Undercover ditangkap dan ditahan Bareskrim di Polda Metro Jaya sejak Jumat (30/12) lalu. Isi buku Jokowi Undercover setelah dilakukan penyidikan, dinilai penyebaran informasi berisi ujaran kebencian terhadap Presiden Joko Widodo yang dia tulis dalam bukunya.

“Tersangka Bambang Tri Mulyono dititipkan penahanannya di Rutan Polda Metro Jaya,” ujar Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigjen Pol Rikwanto dalam keterangan tertulis, Sabtu (31/12/2016).

Tersamgla Bambang menyebut didalam isi buku Jokowi Undercover bahwa Presiden Jokowi telah memalsukan data saat mengajukan diri sebagai calon presiden 2014 lalu.

Ia juga menyebut Desa Giriroto, Boyolali, merupakan basis Partai Komunis Indonesia terkuat se-Indonesia, padahal PKI telah dibubarkan sejak 1966. Bambang menuliskannya seolah-olah hal tersebut nyata tanpa memiliki dokumen pendukung tulisannya itu.

“Tuduhan dan sangkaan yang dimuat pada buku Jokowi Undercover dan media sosial, semua didasarkan atas sangkaan pribadi tersangka,” kata Rikwanto.

Tak hanya itu, Bambang juga dianggap menebarkan kebencian terhadap kelompok masyarakat yang bekerja di dunia pers. Ia menyebut bahwa sosok Jokowi dan Jusuf Kalla muncul atas keberhasilan media massa dan melakukan kebohongan terhadap rakyat.

Brigjen Pol Rikwanto juga mengungkapkan bahwa isi buku Jokowi Undercover mengambil bahan dari media sosial atau dari obrolan dunia maya.

“Kita lakukan pemeriksaan kepada saudara BTM dan dari keterangannya dia mengambil bahan buku ini dari medsos atau dari obrolan dunia maya. Dia analisa sendiri dia kumpulkan, kemudian dia simpulkan sendiri,” kata Karo Penmas Polri Brigjen Rikwanto di Mabes Polri Selasa (3/1).

Sehingga, masih kata Rikwanto, akhirnya menjadi narasi yang seolah-olah itu adalah sebuah kebenaran yang dituangkan dalam sebuah buku. Termasuk soal foto Jokowi yang diperbandingkan dengan menggunakan fotometrik

“Kita tanya dari mana, saudara BTM memiliki kemampuan itu, dia jawab cari di Google, dari Google ada petunjuknya, kemudian dia membandingkan foto satu dengan foto lainnya dengan caranya sendiri, sehingga dia simpulkan cocok oleh dirinya sendiri,” lanjutnya.

Isi buku ini tidak ada studi yang komprehensif dan akademis yang dibenarkan. Tidak ada sama sekali check dan recheck atau survei di lapangan ataupun mencocokan dengan sumber yang penting.

“Jadi kita anggap buku ini sama saja mencemarkan nama orang. Dia mencetak bukunya sendiri, dipesankan lewat internet juga, kita sedang lacak cetaknya di mana tempatnya. Dia juga promosikan lewat internet, sore ini kita akan periksa, sudah berapa pemesan, siapa saja,” sambungnya.

Tersangka dalam pengakuannya juga pernah berusaha melobi penerbit tertentu untuk menerbitkan bukunya tapi ditolak karena sama sekali tidak bisa dipertanggungjawabkan isinya.

Saat disinggung kenapa tidak membiarkan saja buku “sampah” itu tanpa harus rumit memidanakannya, Rikwanto menjawab, “Tidak sederhana itu ya, itu menyangkut kepala negara, dan orang banyak. Jadi orang terpengaruh dengan buku ini. Harus ada ketegasan buku benar atau tidak, ternyata tidak benar. Dia telah menyebarkan kebohongan.”

Pelaku punya motif ingin dikenal masyarakat karena bukunya itu.

Bambang dikenakan Pasal 16 Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2008 tentang Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis.

Dalam pasal itu disebutkan, siapa saja yang sengaja menunjukkan kebencian terhadap ras dan etnis tertentu akan dipidana penjara paling lama lima tahun dan denda paling banyak Rp 500 juta.

Bambang juga dijerat Pasal 28 ayat 2 UU ITE karena menyebarkan informasi untuk menimbulkan rasa kebencian atau permusuhan teehadap individu atau kelompok masyarakat tertentu berdasarkan atas suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA).

Dalam penyidikan ini, Bareskrim Polri telah memeriksa dua anggota Polda Jawa Tengah sebagai saksi dan Michael Bimo sebagai pelapor.

Sementara itu, saksi hadir yang dihadirkan ialah ahli ITE, ahli bahasa, ahli sejarah, ahli pidana, dan sosiolog.

Barang bukti yang disita meliputi seperangkat komputer, ponsel, flashdisk, buku Jokowi Undercover, dokumen Jokowi saat proses pilpres dari Komisi Pemilihan Umum Pusat, KPUD DKI Jakarta, dan KPUD Surakarta.